Assagaff: Spirit Orang Basudara Mampu Hadapi Dampak Negatif Globalisasi

AMBON, Ambontoday.com – Falsafah atau Spirit Hidup Orang Basudara (hidup bersaudara) di Maluku, disebut Gubernur Maluku Said Assagaff, bisa menjadi modal untuk menghadapi dampak negatif yang mungkin diakibatkan oleh derasnya arus globalisasi.

“Sebab dalam spirit tersebut, terdapat nilai-nilai kearifan, seperti yang kuat harus membela yang lemah. Yang mampu menyantuni yang kurang mampu. Yang pintar memberi pencerahan pada yang belum tahu. Yang tua menyayangi yang muda, dan sebaliknya, yang muda menghormati yang tua,” ujar Gubernur saat pengukuhan secara adat, Raja Negeri Kailolo Rusdy Marasabessy sebagai Upulatu Sahapory, di Negeri Kailolo, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (8/3/2017).

Sekadar mengingatkan soal globalisasi, Assagaff katakan, saat ini kita hidup di sebuah era yang terus berubah, dengan sangat cepat. Sepertinya, dunia ini semakin sempit dan menyatu. Apa yang terjadi di luar negeri dan kota-kota besar lainnya, dengan cepat dapat berpengaruh sampai di negeri atau kampung-kampung yang jauh dari kota.

“Para ahli menyebut kondisi tersebut sebagai proses globalisasi, yang membawa dampak terhadap kehidupan masyarakat. Baik itu dampak positif maupun negatif,” terangnya.

Dampak positif yang ditimbulkan, menurut Assagaff, adalah keterbukaan, kecepatan informasi dan modernisasi. Namun beberapa dampak negatif yang ditimbulkan dari globalisasi, kata dia, juga tidak kalah mengkuatirkan, yakni lahirnya materialistis, hedonis, dan individualistis.

“Ini yang sejatinya bertentangan dengan ‘Spirit Hidop Orang Basodara’, yang telah menjadi kekayaan budaya di Maluku, yang dikenal sebagai Negeri Para Raja ini,” tandasnya.

Lantaran itu, Assagaff katakan, acara adat seperti pengukuhan raja secara adat ini, dapat menjadi media untuk merevitalisasi nilai-nilai kearifan lokal, dan memperkuat kesadaran hidup bersama anak negeri, sebagai “Orang Basudara” berdasarkan semangat Siwalima, Pela Gandong, Kai Wai, Kidabela, yang senantiasa saling memahami, saling mempercayai, saling menghargai, saling peduli, saling mengasihi, saling membanggakan, saling menopang, dan saling menghidupi.

Melalui kesadaran budaya dan kearifan lokal seperti itu, Assagaff mengajak semua masyarakat Maluku, untuk meningkatkan kepekaan sosial terhadap dinamika masyarakat, yang terus berubah di Maluku.

Terutama, lanjut Assagaff, dalam menghadapi berbagai fenomena kekerasan dan asusila, yang dapat mengakibatkan kita kehilangan keadaban hidup dalam lingkungan keluarga maupun keadaan publik.

“Marilah kita perkenalkan dan wariskan nilai-nilai kearifan lokal negeri ini kepada generasi muda, melalui event-event budaya seperti ini. Serta lewat pendidikan menghidupkan nilai (living velues education), baik itu di rumah maupun sekolah,” ajak Assagaff.

Sebagai contohnya, menurut Assagaff, sesibuk-sibuknya kita, tetapi tetap meluangkan waktu untuk makan bersama keluarga. Sebab pertemuan keluarga di “dulang”, dalam kosmologi orang Maluku, merupakan media pendidikan keluarga yang sangat sakral, selain untuk membina rasa kasih sayang dan saling berbagi.

“Selain itu, ada tradisi Kewang, tradisi Masohi, Badati, Ma’anu, dan sebagainya, yang perlu selalu dihidupkan dalam kehidupkan sehari-hari,” ujar Assagaff.(AT-009)

author