QRIS Rumahnya Aplikasi, BI Maluku Ajak Mahasiswa Unpatti Berbisnis

AMBON, Ambontoday.com– QR Code Indonesia Standar (QRIS) merupakan rumah aplikasi yang dapat dipakai secara online. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku mengajak mahasiswa di Universitas Pattimura Ambon agar bisa berbisnis dengan menggunakan QRIS.

“Dengan rumahnya aplikasi ini seluruh mahasiswa di Unpatti bisa mengunakan OVO, linkAja, Tokopedia dan lainnya untuk berbisnis atau berwirausaha secara non tunai pakai Handphone (dompet elektronik,” kata Wakil Rektor 4 Bidang Kemasiswaan Unpatty Ambon, Muspida dalam sambutannya di Aula Rektorat Lantai II, Unpatty Ambon pada kegiatan sosialisasi Implementasi QRIS, Rabu (11/3/2020).

Muspida mengakui, rumah besar aplikasi ini yang digagas oleh BI di seluruh Indonesia termasuk Maluku dan sekitarnya, memberikan peluang pasar sekaligus bisnis bagi kalangan muda di era milenial.

“QRIS ini penting dikalangan muda, dan diharapkan 10 persen jumlah mahasiwa lulusan bisa memiliki modak untuk berwirausaha dan berbisnis dengan menggunakan aplikasi ini sehingga usaha yang dari kecil dapat berkembang menjadi lebih besar.,” akuinya.

Selain itu, QRIS adalah langkah awal untuk dapat bertransaksi secara non tunai. “Dengan aplikasi ini, kita tidak perlu khawatir karena dompet elektronik ini dapat memberikan kemudahan bagi kita terutama mahsiswa agar lebih mendiri di era milenial dalam dunia maya,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku, Noviarsano Manullang menjelaskan, QRIS ini perubahan dalam mempersiapakan sistem pembayaran yang handal, aman, dan terpercaya.

“QRIS ini dapat mempertemukan atau menjembatani aplikasi-aplikasi seperti, ovo, linkaja, tokopedia dan lainnya agar saling bertransaksi secara non tunia,” akuinya.

Ia menambahkan, Kedepan pihaknya coba mendorong bukan saja pedagang yang melakukan scan, tapi diri sendiri memiliki QRIS tersebut.

“Ini menjadi trend yang akan datang, dan pola-pola transaksi ini dapat mengatasi masalah jarak maupun waktu karena problem ini yang paling besar dihadapi oleh Indonesia termasuk di Maluku dengan ciri kepulauannya,” ungkapnya.

Ia berharap, lewat sosialisasi ini transaksi di Maluku yang masih secara tunai dapat bergeser ke non tunai.

“Manfaat bertransaksi secara non tunai yakni ; tidak ada uang recehan saat berberlanja, harga bahan pokok di pasaran dapat ditetapkan,” tandasnya. (AT-009)

author