Asal Tuding, Corinus Wattimena Diminta Tanyakan Pemerintah Negeri Urimessing dan Terancam Dipolisikan

Ambontoday.com, Ambon.- Setelah membaca tulisan Corinus Wattimena, “Akhirnya Alfons Mengakui 20 Dati di Negeri Urimessing Adalah Milik Estefanus Watemena.” Ahli Waris Josias Alfons, Evans Reynold Alfons kepada wartawan mengatakan, dirinya merasa geli dan lucu atas tanggapan yang disampaikan Corinus Wattimena dalam tulisannya.
Menurutnya, Alfons tidak pernah menyampaikan dan menyatakan pengakuan bahwa 20 potong Dati di Negeri Urimessing adalah milik Estefanus Wattimena.
“Alfons tidak pernah menyatakan pengakuan bahwa 20 potong Dati Urimessing adalah milik Estefanus Watemena. Yang pernah saya sampaikan adalah, 20 potong Dati di Negeri Urimessing itu pernah dikepalai oleh Estefanus Watemena, itu benar. Karena Dati itu bukan milik, Dati itu tugas. Jadi saudara Corinus jangan terlalu jauh dan keliru menilai,” tegas Evans.
Dirinya menganjurkan, Corinus Wattimena selaku seorang Kepala Soa harus memahami dulu tentang historis Dati di Negeri Urimessing. Terkait Dati di Negeri Urimessing semestinya Corinus Wattimena mempertanyakan pemerintah Negeri, sebab ada 2 surat yang pernah digunakan oleh Johanis Tisera dalam perkara-perkara sebelumnya yakni perkara 62 maupun perkara yang digunakan bapaknya di tahun 1978.
“Ada surat 1 Agustus 1977 dan surat tanggal 1 Oktober 1977, dua surat ini sangat berhubungan terkait dengan pernyataan bahwa Sadrak Watemena, Jacob Watemena dan Estefanus Watemena itu sudah dinyatakan lenyap.
Pernyataan itu bukan dibuat oleh Alfons tetapi yang menyatakan hal itu adalah Pemerintah Negeri Urimessing. Untuk itu, sebaikanya Corinus Wattimena mempertanyakan hal itu kepada pemerintah Negeri Urimessing,” jelas Alfons.
Dirinya mengungkapkan, dalam surat tanggal 1 Oktober 1977 di sana pemerintah negeri Urimessing menyatakan, keluarga Wattimena tidak punya hubungan dengan keluarga Watemena, dan hal itu diakui oleh salah satu Kepala Soa Tua di Negeri Urimessing yakni E.Wattimena, serta Raja dan 4 anggota saniri negeri lainnya menandatangani surat tersebut.
Yang mana isi surat tersebut membatalkan penyerahan-penyerahan yang pernah terjadi pada pemerintah sebelumnya maupun pada zaman Hein Johanis Tisera sementara menjabat sebagai Raja, yang ada pengakuan bahwa keluarga Jonias Josias Wattimena dan Christian Wattimena itu benar adalah keturunan Estefanus Wattemena dan mereka membatalkan itu, karena hubungan hukum antara marga Watemena dan Wattimena itu berbeda dan tidak punya hubungan samasekali.
Evans menyataan, keluarga Alfons tidak punya urusan dengan persoalan lain termasuk yang disampaikan Corinus Wattimena, saat ini keluarga Alfons hanya mempersoalkan tentang 20 potong Dati yang menjadi hak kepemilikannya sesuai kutipan register Dati dari Residen Amboina tanggal 25 April 1923.
“Register Dati ini sudah diuji dari zaman beta punya opa sampai beta punya bapak. Dimana itu teruji melalui proses hukum di pengadilan saat Negeri Urimesing melawan Alfons maupun Hein Johanis Tisera melawan Alfons,” tandasnya.
Evans menilai, tulisan yang disampaikan Corinus Wattimena ini sepertinya ditunggangi oleh kepentingan sejumlah kelompok. Dirinya menyarankan kepada Corinus agar mempertanyakan status marga Wattimena dan Watemena ke Pemerintah Negeri Urimessing bukan menuding keluarga Alfons yang tidak-tidak.
Alfons saat ini hanya berbicara soal hak kepemilikannya atas 20 potong Dati sesuai hasil keputusan pengadilan. Alfons tidak tahu menahu dengan urusan marga Wattimena atau Watemena, tandasnya.
Sementara itu, Kuasa Hukum Keluarga Alfons, Agustinus Dadiara, mengatakan, Corinus Wattimena, yang menyatakan diri sebagai orang tua di Negeri Urimessing tetapi tidak mengerti tentang hukum Dati.
“Kalau dia berbicara 20 potong Dati yang sekarang menjadi kepemilikan Alfons, itu harus tahu kronologisnya dari mana, jangan hanya menuding, harusnya Corinus punya bukti data dan fakta. Karena berbicara 20 Dati yang sekarang menjadi milik Alfons, itu berdasarkan Negeri Urimessin menyatakan bahwa Dati itu adalah Dati lenyap,” ungkap Dadiara. (AT008)
Sebagai Kuasa Hukum, Dadiara merasa profesinya dilecehkan oleh Corinus Wattimena yan menuding dirinya bersama kliennya menyebarkan informasi bohong terkait kepemilikan 20 potong Dati milik keluarga Alfons.
Dadiara mengancam, jika Corinus masih terus membuat tudingan yang tidak mendasar, sebagai seorang Pengacara dirinya akan melaporkan Corinus Wattimena ke pihak berwajib karena telah menfitnah dan melecehkan profesinya. (AT008)

author