Gubernur Ungkap Tarif Angkutan Udara Picu Inflasi

Jakarta, ambontoday.com – Gubernur Maluku Irjen Pol. (Pur) Drs. Murad Ismail, menyatakan, salah satu pemicu penurunan di Provinsi Maluku disebabkan oleh tingginya harga tiket penerbangan domestik. Dirinya meminta agar Presiden melalui Menteri Perhubungan dapat mempertimbangkan agar 63 penerbangan domestik di Maluku masuk dalam kebijakan batas atas – batas bawah tarif angkutan udara.

“Komponen yang tetap bertahan menjadi pemicu pembayaran kita adalah harga tiket angkutan udara,” kata Murad saat menerima Rakornas Pengendalian Inflasi 2019 di Hotel Sahid Jakarta yang turut dihadiri oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dan Menteri Kabinet Kerja, Kamis (25/7).

Dikatakannya, berdasarkan roadmap penguasaan provinsi Maluku tahun 2016-2019, telah ditetapkan target inflasi 2018 yaitu 4,0%, dan untuk tahun 2019-2021 telah ditetapkan target inflasi Maluku tahun 2019. Sasaran inflasi 2018 sebelumnya merupakan 3,5%.

Perkembangan penurunan Maluku sejak 2015 hingga tahun 2017 Namun, pada akhir tahun 2018. Capaian kredit Provinsi Maluku hingga bulan Juni 2019, kata Murad, diterima mencapai 4,1%.

“Capaian kenaikan lebih dari 3,5%, dan lebih tinggi dari nasional 3,8%. Salah satu penyebabnya adalah kenaikan tarif angkutan udara yang begitu tinggi,” ungkapnya.

Dijelaskannya, rute penerbangan di Maluku sebanyak 63 rute domestik, terdiri dari 14 rute dalam daerah, dan 49 rute luar daerah atau antar provinsi. Dari jumlah tersebut, hanya 20 rute antar provinsi yang diganti batas atas sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 106 tahun 2019.

“Dengan mempertimbangkan Maluku sebagai daerah kepulauan, mohon kiranya mempertimbangkan Presiden melalui Menteri Perhatian agar dapat mempertimbangkan 63 rute penerbangan yang ada di Maluku untuk masuk dalam anggaran batas atas dan batas akhir tarif angkutan udara,” pintanya.

Gubernur menambahkan, Satgas Pangan dari Polda Maluku juga sangat membantu dalam mengendalikan harga, dan juga membantu dalam menurunkan moneter. “Saya harap Satgas ini bisa dijalankan lagi,” katanya.

Selain itu, lanjut Gubernur, masyarakat juga perlu didorong untuk tidak bergantung pada konsumsi beras, sebab ada banyak makanan khas Maluku seperti sagu dan umbi-umbian yang bisa menjadi makanan utama. “Beras bukan satu-satunya sumber makanan utama, dan di Maluku kita punya sagu dan umbi-umbian,” tandasnya.

Sementara itu, Wapres Jusuf Kalla dalam sambutannya saat dibuka rakornas memuji beberapa poin penting. Dia meminta agar melalui pemerintah terkait dan pemangku kepentingan lainnya segera melakukan harmonisasi tentang kebijakan moneter, suku bunga, produksi, infrastruktur, dan kepastian investasi untuk pengusaha.

“Inflasi itu ibarat tekanan darah. Kalau terlalu tinggi, bisa pingsan. Kalau terlalu rendah, pun bisa pingsan,” guyon Wapres dengan gayanya yang khas.

Ia meminta agar para pemangku kepentingan terkait dapat menjalin kemitraan yang harmonis. “Jadi, percetakan ringan dan dapat dilakukan, intinya dilakukan harmonisasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BI dan pemangku kepentingan lainnya,” katanya (AT / lamta)

author