198 Produk Pangan Tidak Layak Ditemukan BPOM

Ambon,Ambontoday.com- Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Maluku menemukan sebanyak 198 jenis produk pangan tidak layak beredar di pasaran, hal ini disampaikan oleh Kepala BPOM Maluku, Sandra Linthin dalam konfrensi persnya di kantor BPOM Kudamati Ambon, Jumat (22/12/2017).

Menurutnya, dari 198 jenis produk pangan tersebut ditemukan 11,889 pieces produk yang tidak layak dengan total harga hampir Rp. 400 juta. “masih ditemukan adanya produk rusak, tanpa ijin edar, dan expired date,” ujarnya.

Dikatakan 198 jenis produk tersebut mengalami kerusakan pada kaleng maupun kemasannya, telah melewati batas masa berlaku dan juga tidak adanya ijin edar pada kemasan yang dikeluarkan langsung oleh BPOM.

Dia menambahkan dari 198 jenis produk yang ditemukan paling banyak produk tanpa ijin edar yang ada di pasaran yaitu sebanyak 73 jenis produk. “Dari 198 item paling banyak yang tanpa ijin edar yaitu 73 item,” tuturnya.

Diungkapnya, ada tiga jenis ijin edar yakni yang tidak berlaku, tidak tercantum sama dengan yang ada pada label maupun yang tidak terdaftar pada BPOM. Dan masa ijin edar yang tidak berlaku harus segara diperpanjang sehingga tidak menimbulkan masalah dilain waktu.

Pihaknya juga memberikan keringanan untuk pelaku usaha yang produknya beredar tanpa ijin edar untuk mengkonfirmasi terkait ijin edar dari produk tersebut. “Kita berikan keringanan untuk konfirmasi terkait ijin edar, apakah ijin edarnya tidak diperpanjang, apa sedang diperpanjang,” ungkapnya.

Selain itu, banyak juga produk dengan kemasan yang rusak yaitu produk dengan kemasan kalengan. Tetapi untuk produk dengan Expired date yang ditemukan sudah smeakin berkurang. “Produk banyak yang rusak yaitu dengan kalengan biasanya kalengannya karatan atau yang lainnya,” tambahnya.

Dia mengungkapkan dari 198 item yang ditemukan berasal dari 23 sarana yang diawasi oleh pihaknya. Ada sebanyak 42 sarana yang diawasi tapi hanya 23 sarana yang ditemukan produk yang tidak layak beredar. “42 sarana cuma 23 sarana dan itu sudah 57 persen berkurang,” terangnya.

Dijelaskan pihaknya melakukan pengawasan dan data yang ada berasal dari kota Ambon, Tual, MTB dan Buru Selatan. Namun, untuk sekarang pihaknya juga sedang melakukan pengawasan di Saumlaki dan Sebagian kota Tual. (AT-009)

Jadilah Orang Pertama share:
author