75 Tahun Merdeka Romang Masih Gelap Gulita

MBD, ambontoday.com – Tinggal seminggu lagi negara indonesia akan berpesta merayakan hari ulang tahun kemerdekaannya yang ke 75 sejak diproklamirkan tahun 1945 silam. Namun dengan usia yang sudah cukup tua, masih ada banyak daerah di negara ini yang belum tersentuh pembangunan sehingga jauh dari kata sejahtera.

Hal ini terbukti saat media ini melakukan perjalanan ke kecamatan pulau romang dalam rangka peliputan. Di pulau romang crew media ini mendapati sederet persoalan sosial dan pembangunan yang mengakibatkan kecamatan tersebut terisolasi akibat akses dan sarana prasarana yang tidak memadai. Persoalan ini seyogyanya harus dilakukan evaluasi oleh pemerintah dari pusat hingga daerah.
Betapa tidak, hingga saat ini masyaakat kecamatan pulau romang tidak pernah menikmati penerangan alias listrik akibat dari projet pembangunan PLN yang gagal total. Fakta di pulau romang memperlihatkan bahwa saat ini telah dibangun kantor PLN dan juga asrama/mess serta pemasangan tiang listrik dan jaringannya sudah terpasang sejak 2012 lalu namun sampai saat ini mesin pembangkitnya belum juga tiba di pulau romang. Akibatnya jaringan dan gardu yang telah dipasang telah mengalami kerusakan yang cukup parah.
Camat kepulauan romang Drs. Jafet Lelatobur yang dikonfirmasi media ini menjelaskan, sudah lama masyarakat romang sangat menambahkan hadirnya penerangan atau listrik di daerah itu namun harapan tersebut bisa jadi sia-sia karena hingga saat ini persoalan listrik belum juga teratasi ujar camat. Bagi camat, kehadiran listrik di kepulauan romang sangat didambahkan karena dapat membantu anak-anak kita dalam proses belajar mengajar, selain itu hasil-hasil laut dan hasil bumi bisa disimpan dan diawetkan dengan menggunakan listrik. Olehnya itu sebagai camat, mengatasnamakan masyarakat dirinya sangat menharapkan uluran tangan dan perhatian pemerintah untuk melihat persoalan tersebut ujarnya. Dijelaskan, saat ini masyarakat biasa menggunakan listrik desa namun hanya sampai pukul 00.00 (jam 12 malam) karena keterbatasan BBM dan kalau sudah mengalami gangguan atau kehabisan BBM maka listrik desa tidak bisa beroperasi dan terpaksa masyarakat harus mencari alternatif lain. Belum lagi harga BBM yang selangit ujar camat. Pantauan media ini jaringan listrik yang sudah terpasang banyak yang telah mengalami kerusakan berat dan kalaupun mau diopreasikan maka mesti harus diganti karena sudah tidak layak.

Bukan saja persoalan listrik, persoalan pelik lainnya adalah sarana penyeberangan yang menghubungkan dusun huwai, dalka dan lokasi kecamatan di dusun rumahkuda yang masih menggunakan rakit sabagai satu-satunya sarana penyeberangan di daerah itu akibat tidak adanya sarana jembatan penyeberangan yang bisa digunakan padahal, jembatan itu sangat dibutuhkan untuk penyeberangan ke lokasi kantor camat dan juga untuk anak-anak sekolah sehingga satu-satunya sarana penyeberangan adalah menggunakan rakit yang sangat membahayakan keselamatan para penggunanya.
Camat pulau romang yang dimintai keterangannya terkait hal ini menjelaskan, rakit yang digunakan saat ini sudah sejak lama namun tidak ada akse lain sehingga masyarakat berinisiatif membuat rakit untuk sarana penyeberangan namun dengan adanya rakit ini sebagai sarana alternatif satu-satunya dirasakan sangat membantu masyarakat ungkapnya. Olehnya itu camat sangat berharap ada perhatian pemerintah untuk untuk bisa membantu membangun sebuah jembatan yang representatif yang menghubungkan tiga desa yang ada di pulau romang yakni desa jerusu, hila dan solath. (AT/jeger)

author