Ada Apa Dibalik Kisruh Penganiayaan Brimob Terhadap Warga Olilit

Saumlaki, ambontoday.com – Kisruh Penganiayaan yang dilakukan Anggota Brimob terhadap dua warga Olilit semakin mengembang dalam diskusi – diskusi lepas pada lapak – lapak watssAp group, maupun dikalangan elit – elit politik di Bumi Duan Lolat, hingga ke manca negara.

Menyikapi Kisru dimaksut, anggota Kompi 3 Batalian C Sat Brimob Polda Maluku Briptu Mario Titirloloby yang merupakan korban penganiayaan pertama bersama adik sepupunya Lukas Melsasail oleh masa pada saat itu, melakukan klarifikasi kepada ambontoday.com dikediamannya Sabtu (26/9/2020), mengingat dirinya juga warga Olilit.

“Saya ingin menjelaskan singkat saja kronologisnya ya, mengingat persoalan ini semakin diperkeru, sebenarnya saya dan adik sepupu saya yang dianiyaya korban dan rekan – rekannya, kejadian awalnya telah dilansir oleh beberapa media, saya ingin jelaskan agar tidak lagi ada polimik dikalangan masyarakat, saya ketika sampai di TKP, saya dan ponaan saya di pukul namun tidak ada balasan dari kami” kata Titirloloby

Disinggung juga, ketika masa berkerumun memukuli mereka Titirlolobi sempat menyelamatkan diri dari amuknya masa, namun beliau teringat sepeda motor miliknya berada dalam kerumunan masa.

“Saya kaget ketika mendengar teriakan kasih hancur motornya saja dan banting henponnya, karena takut saya sempat meminjam sepeda motor teman untuk meminta bantuan piket jaga malam dibatalion untuk mengambil motor saya yang sementara diobok – obok masa, sesampainya di TKP saya dihajar juga oleh kedua korban dan rekan – rekannya, disitulah terjadi pemukulan terhadap mereka oleh piket jaga malam” ujarnya.

Dirinya mengakui bahwa memang pada saat itu salah satu anggota yang piket malam membawa senjata, karena itu protap yang harus dijalankan, bukan membawa senjata untuk menganiaya korban, kedua anggota tersebut membawa korban ke Mako Brimob untuk mempertanggungjawabkan tindakan mereka, sesampainya dibatalion maka pihak piket melaporkan kejadiannya ke Danki.

“Maaf ya tindakan Danki terhadap kedua korban karena merasa kecewa dan kesal atas perbuatan mereka, disitu langsung Danki memerintahkan saya untuk melaporkan kejadian tersebut di Polres, inilah alur kejadiannya” urainya.

Ia juga menyesal, peristiwa ini dipolitisir yang terlalu fulgar, semoga persoalan ini dapat diselesaikan secepatnya oleh Polres Kepulauan Tanimbar, agar tidak ada lagi polimik terus dikalanagn masyarakat, mengingat dirinya yang korban bersama saudaranya disampingkan, bahkan mereka disalahkan dalam peristiwa ini.

“Saya dan sudara saya korban pemukulan oleh mereka kok kami dipihak salah kan lucu, namun sudahlah itu pendangan dan pemahaman masyarakat dalam persoalan ini, karena peristiwa ini saya ada sebagi pelapor karena kami korban” imbaunya.

“Harapan saya, semoga persoalan ini tidak ditunggangi dengan kepentingan – kepentingan lain, karena saya ini anak dan warga Olilit juga, sekirannya semua kita dapat berpikir positif dan memilar suatu kejadian agar tidak salah kapra dan mengambil keputusan, dalam hal ini saya tidak membela Negeri saya Olilit dan juga satuan, tetapi yang saya sampaikan ini benar adanya dan tidak ada rekayasa, jika itu rekayasa leluhur atau moyang – moyang kitalah yang menghukum saya teristimewa Tuhan, saya juga tidak membelah diri, biarlah pihak polres yang menyelesaikannya” harap Titirlolobi.

Ia juga meminta dari semua pihak agar tidak lagi memperkeruh suasana kamtipmas lewat peristiwa ini, dan sebagai masyarakat adat yang berdiam dibumi Duan Lolat ini, mengajak semua pihak untuk turut menyuarakan seruan Duan Lolat dan mengimplementasinya sebagai perinta leluhur untuk generasi kita kelak.

“Saya pribadi dan keluarga bahkan sebagai anggota brimob meminta maaf bagi semua pihak jika peristiwa ini mengecewakan dan mengganggu adrinalin berpikir semua pihak, sekali lagi saya mohon maaf” pintahnya. (AT/lamta)

author