Saumlaki, ambontoday.com – Banyak keganjilan dari pengungkapan kasus ilegal loging yang dipublish oleh Kapolres Kepulauan Tanimbar AKBP Umar Wijaya, bersama Kasat Sersenya IPTU Yogie Gultom. Lantaran dari kedua kasus yang sama dengan dilatarbelakangi ketidaklengkapan dokumen Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu Olahan (SKSHHKO). Polres hanya menetapkan tiga tersangka saja. Dimana untuk kasus pertama, Polisi menetapkan pemilik kayu FR dan supir truk RMM. Sedangkan pada kasus kedua, hanya menetapkan supir truk JM sebagai tersangka. Pemilik kayu yang notabenenya adalah ibu kandung salah satu konglomerat di Tanimbar, STG hanya sebagai terlapor saja.Istilah ‘Tumpul ke atas, tajam ke bawah’ mungkin sudah lumrah bahkan sudah menjadi rahasia umum. Bahwa, hukum di negara ini timpang sebelah. Maksud dari istilah ini adalah salah satu kenyataan bahwa keadilan lebih tajam menghukum masyarakat kelas bawah dari pada kelas atas.

Hal ini terlihat jelas, saat Kapolres Kepulauan Tanimbar AKBP Umar Wijaya, yang didampingi Kasat Serse Iptu Yogie Gultom, mengumumkan penetapan tersangka kasus dugaan pemuatan kayu ilegal dengan tidak dilengkapi dokumen berupa Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu Olahan (SKSHHKO). Alhasil, Kapolres dan jajarannya akhirnya menetapkan tiga tersangka pada dua kasus yang sama yakni pemilik kayu FR dan supir truk yang saat itu diminta mengangkut kayu dari Desa Lauran ke Pelabuhan Yos Sudarso Saumlaki inisial RMM. 

Namun pada kasus kedua, si pemilik kayu STG hanya berstatus terlapor, ada apa dibalik ini, apakah ada upaya penipuan atau perlindungan kepada konglomerat oleh pihak Polres Kepulauan Tanimbar, mengingat penjelasan Kapolres seakan melindungi dengan alasan usia dan kesehatan sehingga STG tidak ditahan, namun wajib lapor, kondisi ini sama sekali menjadi pertanyaan karena tiga tersangka sudah ditahan, hal ini menimbulkan pertanyaan bahwa illegal logging itu milik STG, sementara nasib malang menimpa sopir truk yakni JM. Alasan yang dibeberkan perwira menengah di tubuh Polri ini, lantaran si pemilik kayu memiliki riwayat jantung. Dan si sopir sebagai tersangka, dikarenakan tak bisa menunjukan dokumen lengkap. STG sendiri adalah ibu kandung dari pengusaha besar atau crazy rich Tanimbar, Agus Teodorus. 

Media ini yang menyambangi langsung rumah sekaligus gudang penampung milik STG ini, yang bersangkutan terlihat segar bugar. Bahkan saat bertatap muka dengan wartawan, STG dengan lancar menjawab setiap pertanyaan wartawan yang dilontarkan kepadanya dengan duduk santai di rumah kediamannya. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang disampaikan pihak polres bahwa beliau baru selesai operasi tumor dan jantungan.

Adapun kronologis kejadian sesuai keterangan Kapolres Umar, bahwa  dua kasus Illegal Logging untuk kasus pertama bermula dari ditemukan langsung oleh Personil Satuan Sabhara yang sementara berpatroli di Pelabuhan Yos Soedarso Saumlaki dan temukanlah 1 unit Mobil Dump Truk warna hijau merah, dengan nomor Polisi L 9159 NJ yang memuat kayu olahan jenis Merbau/Besi dengan ukuran 6 cm x 12 cm yang panjangnya 400 cm sebanyak 127 potong.

Kemudian ketika dilakukan pemeriksaan oleh petugas, Sopir yang mengangkut kayu dimaksud tidak dapat menunjukan dokumen berupa Surat Keterangan Sahnya Hasil Hutan Kayu Olahan (SKSHHKO), sehingga karena tidak dilengkapi dengan dokumen tersebut maka kendaraan beserta muatannya langsung diamankan di Polres Tanimbar, kemudian dilakukan Pemeriksaan terhadap saksi-saksi maupun Supir Dump Truck yang membawa kayu tersebut, diantaranya Saksi 5 orang yaitu Personel Polri yang bertugas, Buruh Pelabuhan yang menaikan dan menurunkan kayu tersebut, dan juga terhadap saudara RMM yaitu Sopir yang mengangkut kayu tersebut.

Dari hasil Pemeriksaan, diketahui kayu tersebut merupakan milik FR di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, yang mana kayu tersebut direncanakan akan dibawa ke Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, dengan menggunakan KM. Berkat Taloda.

Tak lama kemudian, dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kepulauan Tanimbar, juga kemudian mengamankan 1 unit Mobil Dump Truck warna kuning hijau dengan nomor Polisi DE 8697 E yang permasalahannya juga sama, yakni tidak dilengkapi dokumen SKSHHKO, yang juga memuat kayu olahan jenis Linggua dengan ukuran 4 cm x 25 cm dengan panjang 300 cm sebanyak 140 potong.

Menurut keterangan hasil pemeriksaan, kayu tersebut milik STG dan Sopir yang mengangkut berinisial JM, yang mana atas dasar keterangannya, sebelumnya, dirinya sudah melakukan pengangkutan pertama pada pukul 10.00 WIT, yaitu jenis kayu olahan jenis Merbau atau Besi dengan ukuran 6 cm x 12 cm dengan panjang 400 cm sebanyak 105 potong dan ukuran 4 cm x 25 cm dengan panjang 400 cm sebanyak 20 lembar.

“Ketika dicek oleh petugas di lapangan, Supir JM tidak dapat menunjukan dokumen lengkap sehingga barang bukti tersebut diamankan di Polres Tanimbar,” ujarnya.

Terhadap temuan kasus kedua ini, Penyidik Sat Reskrim kemudian juga melakukan pemeriksaan terhadap 3 orang saksi dan 1 orang Supir JM sehingga pada hari Rabu (15/6), dilakukan penangkapan dan penahanan kepada saudara JM. Kemudian pada hari Kamis (16/6) dilakukan juga pemeriksaan terhadap Terlapor pemilik kayu STG, namun berdasarkan keterangan yang didukung oleh bukti pemeriksaan, STG sudah usia tua dan baru selesai menjalani operasi Tumor, kemudian ada juga riwayat penyakit jantung sehingga STG belum dilakukan penahanan karena mempertimbangkan kondisi kesehatan yang dialami bersangkutan.

Sedangkan terhadap penerapan Pasal Pidana dan ancaman hukuman, Pimpinan Polres ini memaparkan pasal yang disangkakan kepada 3 orang tersangka, yakni RMM, FR, dan JM dengan dikenai Pasal 83 Ayat (1) Huruf (b) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2013, tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan yang telah diubah sebagaimana pasal 37 angka 13 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020, tentang Cipta Kerja dengan ancaman hukuman dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima) tahun serta pidana denda paling sedikit Rp500 juta dan paling banyak Rp2,5 miliar. (AT/tim)

Print Friendly, PDF & Email