13 June 2024
Kab.BurSel

“Akibat Perbuatan Ketua DPRD Bursel”, Kai Wait Institut Minta Copot Sekwan

Ambontoday – Desakan untuk mencopot Hadi Longa dari jabatannya sebagai Sekertaris Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Buru Selatan (Bursel) oleh pemuda Buru yang menamakan diri mereka Kai Wait Institut, di depan Kantor Bupati setempat, Jumat (23/7).

Desakan itu diteriakkan oleh sekelompok pemuda Buru Selatan yang tergabung dalam Kai Wait Institut saat berdemo di depan Kantor Bupati Buru Selatan.

Aksi Demo yang dipimpin oleh Sulkifli Nustelu selaku Korlap I dan Aser Biloro selaku Korlap II. Dalam aksi itu, mereka berbendera Merah Putih dilengkapi pengeras suara, pendemo beraksi teriakan minta pencopotan Hadi Longa dari jabatannya sebagai Sekwan.

Aksi pemuda Buru Selatan tersebut terkait polemik undangan. Tokoh-tokoh pemekaran termasuk mantan Bupati pertama Buru Selatan Tagop Sudarsono Soulisa yang menjabat selama dua periode, itu tidak di undang pada Paripurna istimewa DPRD Memperingati HUT Ke-13 Kabupaten Buru Selatan pada 21 Juli 2021 kemarin.

Diketahui, Tagop Sudarsono Soulisa dan almarhum Ayub Seleky habis masa jabatannya sebagai Bupati periode 2016-2021, pada tanggal 22 Juni 2021 lalu. Tagop Sudarsono Soulisa dan almarhum Ayub Seleky digantikan oleh Safitri Malik Soulisa sebagai Bupati dan Gerson Eliezer Selsily sebagai wakil bupati periode 2021-2026.

Permintaan pencopotan Hadi Longa dari jabatannya sebagai Sekwan tertuang dalam 4 butir tuntutan mereka.

Pertama, Kai Wait Institut secara kelembagaan meminta kepada Bupati dan Wakil Bupati Buru Selatan untuk segera mencopot jabatan Sekwan.

“Karena dengan sengaja telah mengabaikan telah mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pimpinan OPD yang ditugaskan untuk dapat memfasilitasi tugas eksekutif di lembaga legislatif,” jelas mereka.

Dua, bahwa Sekertaris Dewan secara inheren adalah OPD yang mengatur segala kebutuhan dan kepentingan eksekutif di lembaga legislatif (DPRD).

“Untuk kelalaian dan kekeliruan yang dilakukan oleh yang bersangkutan (Sekwan-red), bagi kami ini sangat berdampak negatif bagi Pemda Buru Selatan. Secara etis di satu sisi, disisi yang lain merugikan pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati yang baru saja melaksanakan tugas 30 hari di hari ini,” jelas pendemo.

Terkat persoalan ini, KAI Wait Institut meminta kepada Bupati dan Wakil Bupati untuk segerah melakukan langkah untuk mensterilkan semua staf yang ada di Sekertariat DPRD Kabupaten Buru Selatan, terutama Sekwan.

Tiga, sebagai anak cucu dan generasi penerus atas bumi Pulau Buru bagian Selatan, atas nama lembaga Kai Wait Institut merasa terpukul dan tersinggung atas kehendak Ketua DPRD yang dilakukan baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja, untuk tidak mengundang para tokoh dan pejuang pemekaran kabupaten Buru Selatan dalam acara sidang paripurna istimewa.

“Paripurna istimewa dalam rangka memperingati HUT Ke-13 Kabupaten Buru Selatan hari itu,” jelas butir tuntunan mereka.

Menurut mereka katakan bahwa, hari itu (21/7) adalah monumental bagi setiap anak negeri yang merasakan perjuangan bagi terwujudnya dunia baru yang hari ini sama-sama rasakan.

“Dunia yang hari ini kalian nikmati kedudukan dan kemewahan, padahal orang lain yang berjuang dan berkorban. Apakah itu disebut Kai Wait?, ucap mereka.

Empat, secara kelembagaan Kai Wait akan melakukan aksi dengan mengkonsolidasikan semua tokoh adat dan seluruh lapisan masyarakat Buru Selatan.

“Meminta pertanggung jawaban semua pihak yang bertanggung jawab atas polemik yang terjadi, akibat dari perbuatan Ketua DPRD Kabupaten Buru Selatan (Muhadjir Bahta – red) dan Sekertaris DPRD,” tegas pendemo. (Biro Bursel)

Spread the love
error: Iklan Hub redaksi@ambontoday.com!!!!
X