Aneh, Tampar Pipi Bengkak Dahi Dan Dagu

Saumlaki, ambontoday.com – Penganiayaan terhadap Felianus Futunanembun alias Elfis guru SD Inpres Arma oleh Kepala Desa (Kades) Arma Isak Jambormias bersama sejumlah masyarakat yang mengakibatkan Elfis pingsan hingga dua kali.

Kekerasan bersama yang dipimpin Kades Arma itu, mengakibatkan Elfis dirawat selama satu hari dipuskesmas Waturu.

“Saya ketika dipukul hingga pingsan ditempat kejadian perkara (TKP), saya kaget sekitar lima menit, sempat mendengar pertanyaan dari kades, “kenapa kamu bilang saya buta huruf” tiba-tiba dua pukulan masuk dan saya tidak sadarkan diri, ketika saya sadar sudah dikediaman Kepala Sekolah (kepsek),” kata Elfis kepada ambontoday.com Senin, (14/6) dikediamannya.

Ditanyakan kondisinya pada saat menuju puskesmas waturu dalam keadaan sadar, Elfis, ketika pihaknya diobati dikediaman kepsek, lalu dilarikan ke Puskesmas Waturu, dalam perjalanan pihaknya tidak sadarkan diri lagi hingga beberapa jam sebelum dilakukan visium oleh Dokter.

“Saya setelah selesai visium, saya lemas tidak berdaya sehingga dimintakan untuk istirahat dipuskesmas hingga malam baru saya diperiksa oleh Polisi Romanus Malirmasele dikediamannya sekitar pukul 21.00 Wit,” ujar Elfis.

Ketika dimintakan penjelasan terkait kejadian pemukulan, Elfis menjelaskan, pada hari Senin, (3/5) sekitar pukul 22.00 Wit, sebelum kejadian ia bersama rekan gurunya hendak mengikuti acara adat pada mata rumah Batkrombawa, dalam perjalanan ia ditertawai sambil dimaki oleh sekelompok anak, dari cacian dan makian itu maka terjadi tamparan pada satu anak yang ada dalam kerumunan itu.

“Saya tampar anak itu bukan tamparan musuh, sebelum saya tampar, saya nasehati dulu, apakah itu salah,” ungkapnya.

Ketika ditanyakan terkait Laporan Polisi (LP) tertanggal 03 Mei 2021, Elfis mengaku LP tersebut terasa ganjal bagi dirinya, diduga itu skenario terbukti surat LP ditipeks pada hari dan tanggal, begitu juga kejanggalan lain pada LP tersebut. Adapun kejanggalan lainnya, ia merasa menampar pipi anak terdebut kok bengka pada dahi dan dagu.

“Prinsipnya mereka sudah melapor dan saya juga sudah mendapat undangan klarifikasih dari Polsek Nirunmas, terkait penganiayaan dan pencemaran nama baik terhadap kades, namun saya belum bisah hadir, mengingat belum ada garansi ketika saya ada disana, saya sudah berupaya menghubungi penyidik namun henponnya tidak aktif” paparnya.

Terkait dengan kekerasan bersama, sempat mendapat tanggapan dari kades bahwa beliau tidak bersama warga Arma menganiayai Elfis, namun terbukti, ketika Vidio kekerasan itu ditonton ternyata kekerasan bersama itu sangat tragis dan sangat tidak prilemanusiaan.

“Vidio yang sudah saya dapat, akan menjadi bukti tambahan nanti pada saat penyidikan di Polres Kepulauan Tanimbar,” pungkasnya.

Besar dugaan, Laporan kekerasan terhadap anak itu merupakan skeniario dari kades, mengingat ada upaya perdamaian yang dilakukan sia-sia, pada saat pelaku masih dirawat pada puskesmas waturu, upaya perdamaian berikutnya menghadirkan Camat dan seluruh kades sekecamatan Nirunmas, namun juga tidak ada hasil alias sia-sia belaka.

“Prinsipnya saya dan keluarga tetap pada jalur hukum, mengingat perbuatan mereka terlalu sadis dan tidak manusiawi,” tutupnya. (AT/Sony)

error: Iklan Hub redaksi@ambontoday.com!!!!