Huwae Tebar Kekecewaan Pada Mahasiswa Fisip Unpatty

Ambon, ambontoday.com – Mahasiswa adalah agen perubahan, mahasiswa adalah agen of control dalam setiap proses pembanguan di Negara ini.

Ratusan mahasiswa jurusan sosiologi Unpatti berkumpul dalam sebuah diskusi publik yang dilaksanakan oleh pihak HMJ sosiologi Unpatti dengan Tema “merawat eksistensi masyarakat adat dalam pembangunan daerah kepulauan”.

kepada ambontoday.com, ketua HMJ fisip Unpatti Simon Batmomolin Kamis (21/3/2019) mengatakan, kegiatan tersebut guna membangun presepsi bersama guna melihat perkembangan dan kemajuan adat di Maluku, terlebih khusus persoalan daerah kepulauan yang selama ini diperjuangkan namun tak kunjung tiba.

dikatakan juga, pemateri dipercayakan dari sisi akademis dan politisi, namun ketika kegiatan diselenggarakan, pihak politisi tidak hadir, sehingga hanya satu pemateri dari pihak akademisi Dr. Piter Pelupessy., M.Si, dan untuk politisi, sesuai undangan yang diedarkan panitia pelaksana diskusi ke Ketua DPRD Provinsi Maluku Edwin Adrian Huwae namun tidak hadir.

“Sebagai mahasiswa kami menilai bahwa Ketua DPRD Provinsi Maluku memiliki potensi sehingga panggung yang telah kami siapkan berhak beliau tampil, namun selama ini kami salah menilai wakil rakyat yang satu ini, setiap kami undang untuk membawa materi pada setiap iven yang kami buat beliau tidak hadir, yang anehny Tidak ada konfirmasi kepada kami alasanny apa” kata Batmomolin.

Ketidak hadiran Huwae pada acara diskusi publik tersebut menimbulka kekecewaan yang mendalam oleh seluruh peserta diskusi, dan ada bahasa yang kurang enak dikeluarkan para mahasiswa dimana, mereka secara gamlang mengatakan bahwa Huwae takut berpanggung di Fisisp Unpatti, dan disisi lain wakil rakyat seperti ini, harus dipangkas pada Pemilu 17 Agustus 2019 ini.

“Kami bisah menghimbau masyarakat yang juga orang tua dan keluarga handaitolan yang ada pada daerah pemilihan Huwae jangan lagi memilih wakil rakyat yang tidak pernah melihat kepentinga masyarakat banyak namun hanya kepentinga pribadi dan golongan, kelompok yang ditonjolkan, apa itu namanya wakil rakyat, kami mahasiswa yang bagian dari masa depan bangsa ini kedepan” kecewanya.

Kekecewaan yang sama juga disampaikan oleh mantan ketua DPMF Fisip Unpatti Evandro Tabafmolu bahwa diahir Kegiatan Tersebut timbul asumsi dari sebagian besar mahasiswa bahwa mungkin saja Ketua DPRD Provinsi Maluku Edwin Adrian Huwae takut menginjakan kakinya diMimbar akademik karena suda berulang kali diundang dalam mimbar-mimbar akademik namun tak perna hadir.

“Kalau diundang tidak hadir kan bisah ada delegasi dari beberapa wakil ketua dan ketua-ketua Komisi, fraksi untuk memberikan materi kan selesai, kok jangan – jangan beliau takut menampilkan para politisi lain” ujar Tabafmolu.

Hal yang sama muncul dari Pembantu Dekan III Drs. Viktor Ruhunlela bahwa diskusi publik yang diselenggarakan oleh para mahasiswa, Pihak DPRD dalam hal ini Ketua Edwin Adrian Huwae tidak hadir, padahal sebenarnya dalam forum-forum seperti itu mereka harus hadir sehingga hasil atau kajian dari pihak kampus bisa mereka pergunakan sebagai acuan untuk menyelenggarakan Fungsi mereka di DPRD nantinya, kalaupun pimpinan DPRD tidak hadir minimal bisa merekomendasikan perwakilan-perwakilan lain untuk hadir dalam duskusi dimaksud. Dengan kehadiran mereka saja suda cukup, karena para mahasiswa tidak minta duit.

“Saya secara pribadi jika diundang dalam acara seperti ini begitu bangganya saya karna panggungnya sudah ada tinggal bagimana saya bisah memberikan yang terbaik bagi masyarakat yang ada pada Negeri seribu pulau ini” bangganya.

Dikatakan pula bahwa suara kampus minimal memiliki nilai ples jika di bandingkan dengan aspi┼Ľasi ruma kopi artinya dari segi kualitas dan bobot dacing aspirasi kampus masih sedikit baik, mestinya ada kebanggaan ketika seorang DPRD ada dalam proses-proses seperti itu sebab ada proses pengembangan kualitas dalam melihat persoalan dinegeri ini. (AT – 025)

Jadilah Orang Pertama share:
author