Diduga Seksi Bimas Kristen Kantor Kemenag Kabupaten Malteng Lakukan Pungli

Masohi, Ambontoday.com – Diduga ada indikasi Pungutan Liar (Pungli) yang di lakukan pada seksi Bimbingan Mayarakat (Bimas) Kristen Kantor Kementerian Agama Kabupaten Maluku Tengah (Malteng) atas pelaksanaan dan penyelenggaraan kegiatan Kurikulum 2013 (K13) kepada 243 Guru Agama Kristen Se-Kabupaten Maluku Tengah selama 6 hari sejak tanggal 20 hingga 26 juli 2017.

Dugaan pungli tersebut di karenakan pelaksanaan K 13 oleh Seksi Bimas Kristen Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Malteng, bukan di anggarkan melalui anggaran pada Kantor Kemenag setempat dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) melainkan kegiatan K 13 tersebut akan menjadi beban dan tanggung jawab 243 tenaga guru Agama Kristen yang mengikutinya dengan menyetor sebanyak Rp. 1,5 juta kepada seksi Bimas Kristen.

Hal ini diungkapkan Faisal Usman pengurus Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Peduli Masyarakat Malteng (PMMT) bidang Peningkatan SDM kepada media ini di Masohi Senin, 24 Juli 2013.

Menurut Faisal bahwa tidak ada ketentuan dan aturan penyelenggaraan K 13 baik oleh Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kepada Guru Umum dan Guru Kelas maupun kepada Guru Agama yang menjadi tanggung jawab pihak Kantor Kementerian Agama untuk membebani guru peserta Diklat dengan membayar uang penyelenggaraan diklat K 13 tersebut apalagi harus mencapai Rp. 1,5 juta per peserta.

Mirisnya bahwa semua kegiatan pelaksanaan diklat dan pelatihan K 13 yang di selenggarakan oleh Pemerintah baik kepada guru umum maupun guru Agama menjadi tanggung jawab Pemerintah dan harus ada anggarannya dalam DIPA dengan ketentuan bahwa Pemerintah akan membiayai semua pelaksanaan kegiatan hingga masalah makan minum maupun tempat menginap sampai pada biaya perjalanan guru, terang Faisal.

Menurutnya bahwa pelaksanaan dan pelatihan K 13 yang di selenggarakan oleh Kantor Kemenag Malteng melalui seksi Bimas Kristen kepada 243 Guru Agama Kristen tersebut sangat tidak rasional dan diduga ada pungli mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

“Ya, kalau satu guru agama di bebani dengan 1,5 juta rupiah maka untuk 243 guru agama Kristen peserta diklat tersebut di peroleh dana mencapai Rp. 355, 5 juta rupiah. Inikan bukan jumlah uang yang kecil, berarti ada indikasi dugaan pungli di dalamnya” Jelas Faisal.

Kalaupun seksi Bimas Kristen kantor Kemenag Malteng menggunakan beberapa aula jasa perhotelan guna pelaksanaan K 13 dan juga makan minum maupun sarapan sore dan juga pembayaran honor tenaga diklat dari Balai Diklat Ambon serta staf pengajar dari Kampus STAKPEN Ambon yang mencapai 10 tenaga pengajar kami perkirakan anggaran yang di gelontorkan dan bisa terpakai habis mencapau 200 juta rupiah saja, pungkas Faisal.

Itu berarti ada sisa dana yang nantinya akan di nikmati oleh pihak seksi bimas Kristen Kantor Kemenag Malteng sangat besar hingga mencapai 100 juta rupiah lebih, imbuhnya sambil meminta perhatian serius Kepala Kantor Wilayah Kemenag Maluku untuk dapat mengambil langkah tegas terhadap apa yang telah di laksanakan oleh seksi Bimas Kristen Kantor Kemeneg Malteng.

Kami juga meminta agar aparat penegak hukum di daerah ini untuk dapat melakukan kajian dan pemeriksaan terhadap indikasi dugaan pungli dalam penyelenggaraan pelatihan dan diklat K 13 di kantor Kemenag malteng tersebut, pinta Faisal.

Menyikapi hal ini, Kepala Kantor Kemenag malteng Drs. JAPRI KABAMAI ketika dihubungi media ini di ruang kerjanya Senin, 24 Juli 2017 kemarin membenarkan kalau kegiatan pelatihan dan diklat K 13 yang di laksanakan oleh Seksi Bimas Kristen kantor yang di pimpinnya tidak ada dalam DIPA.

Kemarin setelah saya mengkroscek kegiatan tersebut ke Ketua Panitia dalam ha ini Kepala Seksi Bimas Kristen baru di ketahui kalau kegiatan ini merupakan kesepakatan antara kepala Seksi Bimas Kristen dengan para Guru Agama Kristen Se-Kabupaten Maluku Tengah karena tidak ada anggarannya dalam DIPA.

Setelah ada kesepakatan Seksi Bimas Kristen dengan para guru baru Seksi bimas Kristen melakukan kegiatan pelatihan K 13 dengan melibatkan pembicara dari Balai Diklat Ambon melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) baru kegiatan ini di laksanakan.

Memang anggarannya tidak ada dalam DIPA tahun anggaran 2017 sehingga kepala seksi mengambil kebijakan dengan meminta persetujuan semua guru agama Kristen dengan di bebani oleh masing-masing guru sebagai peserta untuk membayar 1,5 juta rupiah.

Saya juga tidak mengetahui kalau kegiatan ini harus di laksanakan oleh Bimas Kristen, namun kesiapan seksi Bimas Kristen dan saat menghubungi Kakanwil Kemenag Maluku untuk membuka kegiatan tersebut dan saya di pertanyakan oleh pak Kakanwil apa ada anggaran yang di gelontorkan untuk kegiatan K 13 bagi guru agama Kristen se Mateng, dan ternyata saya membuka Buku DIPA ternyata memang tidak ada dalam DIPA tahun anggaran 2017 Kantor Kemenag Malteng, ungkap Kabalmai dalam percakapannya dengan media ini kemarin.

Dengan demikian dirinya mempertegaskan kalau memang pelatihan dan diklat K 13 yang di selenggarakan oleh seksi Bimas Kristen Kantor Kemenag Malteng tidak tercantum dalam DIPA melainkan kegiatan ini merupakan kesepakatan bersama pihak Bimas Kristen dengan para guru peserta, tegasnya. (AT-010)

https://click.advertnative.com/loading/?handle=3951
author