AMBON, AMBONTODAY.COM- Pemerintah Kota Ambon bersama dengan Balai Pengobatan Obat dan Makanan (BPOM) Cabang Ambon menggelar Monitoring Evaluasi Terpadu Program Nasional, yang berlangsung di Hotel Swissbel Ambon, Selasa (30/11/2021).

Hadiri dalam kegiatan dimaksud adalah Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, Kepala BPOM Cabang Ambon, Hermanto, Kepala Dinas Kesehatan Kota Ambon, Wendy Pelupessy, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Ambon, Pemerintah Desa, Pemerintah Negeri dan Lurah di Ambon dan Kabupaten Maluku Tengah, Kepala Sekolah SD, SMP, SMA.

Louhenapessy dalam sambutannya mengakui, di Provinsi Maluku dari 11 kabupaten kota berdasarkan data Bappeda tahun 2021, terdapat 7 kabupaten kota yang termasuk dalam locus stunting.

Sementara Kota Ambon sendiri menjadi salah satu lokus stunting pada tahun 2021 ini dengan 12 desa di 4 Kecamatan dengan angka prevalensi berkisar 10, 49 sampai 34,87.

Hal ini menjadi miris bila mengingat provinsi Maluku yang merupakan provinsi kepulauan dengan melimpahnya ikan dan hasil laut sebagai sumber protein hewani.

“Dengan ini program nasional pangan jajanan anak sekolah (PJAS) merupakan gerakan untuk meningkatkan yang aman bermutu dan bergizi melalui partisipasi aktif dan terpadu dari seluruh Kementerian lembaga baik tingkat pusat maupun daerah serta pemberdayaan komunitas sekolah. Program ini menuntut kemandirian sekolah termasuk Guru dan orang tua murid dalam pengawasan keamanan jajanan anak di lingkungan sekolah masing-masing,” katanya.

Selain itu, program Nasional gerakan Desa pangan aman juga dilaksanakan di desa dan kelurahan dengan fokus lokus stanting dan desa potensi pangan. Pada tahun ini telah dilaksanakan di 4 Desa lokus stunting yaitu kelurahan kudamati kelurahan lateri desa pasir dan desa.

Selain itu juga telah dilaksanakan di 2 Desa potensi pangan yaitu di itu lama dan hitumessing Kabupaten Maluku Tengah. Program ini memberdayakan kader dan komunitas keamanan pangan sehingga dapat melindungi keluarga dan dasarnya terhadap pangan yang tidak memenuhi syarat kesehatan.

Program nasional yang ketiga adalah pasar aman dari bahan-bahan berbahaya program ini bertujuan untuk memberdayakan pedagang pasar dan komunitas pasar untuk menciptakan pasar yang sehat bebas dari bahan berbahaya yang dapat mencemari pangan seperti boraks formalin dan pewarna tekstil roda b dari metanil yellow.

Pada tahun ini telah di intervensi pasar transit passo Kota Ambon dimana petugas telah dibekali dengan rapid test kit dan telah aktif melakukan pengawasan keamanan pangan dengan melakukan sampling dan pengujian terhadap pangan yang dijual di Pasar transit passo.

Ketiga program nasional ini selaras dengan program gerakan masyarakat hidup sehat yaitu konsumsi pangan sehat serta diharapkan dapat bersinergi dengan program pemberdayaan dari Kementerian maupun dinas terkait dengan keamanan pangan dan penanganan stunting.

Sementara itu, Kepala BPOM Cabang Ambon, Hermanto dalam meterinya mengatakan, Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta bertentangan dengan agama keyakinan dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

“Masalah keamanan pangan yang sering terjadi pada kehidupan manusia adalah cemaran mikroba karena rendahnya sanitasi dan higienis, cemaran kimia karena lingkungan tercemar, penggunaan bahan tambahan pangan atau BTP melebihi batas yang diijinkan, penyalahgunaan bahan berbahaya dilarang dalam pangan boraks, formalin, rhodamin B dan metanil yellow,” akuinya

Oleh karena itu pada periode 2014 -2020 Balai POM Ambon telah mengintervensi 29 di Kota Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Kabupaten Seram Bagain Barat, Kabupaten Maluku Tenggara, Kota Tual dengan total jumlah Kader 545 orang dan 1450 komunitas.

Sedangkan, Desa intervensi tahun 2021 sebanyak 8 Desa yaitu Kota Ambon terdiri dari Lateri, Passo dan Laga, Kabupaten Maluku tenggara yaitu Dian Darat dan Mantsur dan, Kabupaten Maluku Tengah yaitu, Hitulama dan Hitumessing.

“Itu semua termasuk dalam gerakan keamanan pangan desa guna meningkatkan kemandirian dan peran serta masyarakat desa, keamanan pangan mendorong kemandirian masyarakat desa melakukan pengawasan keamanan pangan, serta menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang aman sampai pada tingkat perseorangan selanjutnya memperkuat ekonomi desa,” tandasnya.

Print Friendly, PDF & Email