PKL WONRELI KECEWA DENGAN PEMERINTAH KECAMATAN SOAL RELOKASI YANG TEBANG PILIH

Kisar-MBD, ambontoday.com – Ratusan pedagang kaki lima (PKL) di pulau kisar akhirnya memutuskan untuk menggelar dagangannya di depan kantor camat Pp. Terselatan lantaran kecewa dengan kebijakan pemeritah kecamatan dan kabupaten maluku barat daya yang dinilai kurang tegas terhadap sebagian pedagang yang menolak direlokasi di pasar tutuwatu dusun woorono. Aksi ini kemudian dilakukan ratusan pedagang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah setempat. Para PKL ini menginginkan agar relokasi PKL oleh pemerintah ke pasar alternatif di tutwatu harus dipatuhi oleh seluruh PKL namun faktanya ada PKL yang mengikuti arahan pemerintah kecamatan untuk direlokasi ke pasar alternatif di dusun woorono desa wonreli namun ada pula yang menolak direlokasi ke pasar tutwatu karena jaraknya cukup jauh dari pusat kota. Para PKL yang menolak direlokasi itu akhirnya memilih berjualan di depan toko dan sepanjang bahu jalan yang ada di kawasan perkotaan. Hal ini kemudian memunculkan keresahan dan kecemburuan dikalangan pedagang yang telah mengikuti anjuran pemerintah untuk direlokasi.

Paulina Rehiara/Frans salah satu PKL mengaku kebijakan pemerintah tidak adil dan menyengsarakan sebagian pedagang. pasalnya, ada pedagang yang kebal terhadap instruksi pemerintah sehingga menolak untuk direlokasi dan tetap dibiarkan berjualan di emperan toko dan bahu jalan pada kawasan peekotaan padahal dirinya bersama rekan-rekan PKL lainnya sudah direlokasi ke pasar alternatif. Paulina menegaskan, pendapatan mereka sangat menurun dan bahkan dagangan mereka sangat sepi pembeli sewaktu direlokasi ke pasar tutwatu karena jangkauannya cukup jauh. Sementara mereka harus merogoh kocek untuk membayar ongkos ojek pulang pergi padahal dagangannya sepi pembeli. Selain itu lanjut dia bahwa, masih ada tuntutan lainnya yakni, kredit usaha rakyat (KUR) di bank yang harus dilunasi oleh PKL namun apa mau dikata pendapatan mereka sangat menurun Sementara pendapatan pedagang lainnya yang menolak direlokasi terus meningkat karena lokasinya di pusat kota.
Dia mengaku telah bertemu dengan camat Pp.Terselatan dan dan bupati MBD Benyamin Thomas Noach sewaktu belum mengambil cuti pilkada dalam rangka mengkoordinasikan persoalan tersebut namun hingga sekarang tidak ada respon dan titik terang terhadap persoalan ini akhirnya kami terpaksa harus melakukan aksi ini ujarnya.
Dia berharap instruksi untuk direlokasi ke pasar altenatif di tutwatu harus dipatuhi oleh seluruh PKL jangan tebang pilih karena sangat berdampak bagi pendapatan para pedagang ujarnya.
Sementara itu, salah satu tokoh perempuan asal pulau kisar Bety Ahab kepada media ini mengatakan, rabu pagi tadi sekitar pukul 09 pagi seluruh PKL yang berjualan di pasar alternatif tutwatu secara spontan menuju kantor camat Pp. Terselatan untuk menggelar dagangan mereka disana. Mereka menilai pemerintah kecamatan tidak merespon permintaan mereka terkait penertiban terhadap para PKL lain yang menolak direlokasi. Ahab menjelaskan, perwakilan juga telah bertemu dengan camat Pp. Terselatan Herman Suitela S.STP namun camat menyerahkan sepenuhnya kepada para PKL untuk memilih tempat berjualan yang penting tidak boleh berjualan di atas trotoar depan kantor camat namun para PKL tetap bersih keras untuk tetap berjualan di depan kantor camat karena menurut PKL bahwa setelah beberap jam berjualan di depan kantor camat dagangan mereka habis terjual karena lokasinya sangat strategis terang Ahab.
Pedagang pasar jotowawa di pulau kisar saat ini tengah direlokasi ke pasar tutwatu dusun woorono karena kebutuhan pembangunan dan rehabilitasi pasar jotowawa namun ada sebagian yang menolak direlokasi karena pertimbangan jarak yang jauh dan pendapatan yang berkurang sehingga mereka memilih bertahan di depan emperan toko dan saat ini retribusinya tidak disetor kepada pemda namun disetor kepada pemilik toko yang lahannya dipakai untuk lokasi beejualan oleh para PKL. (AT/Jeger)

author