PRAGMATISME POLITIK

 

Suara Hati Politisi Muda Tanimbar
“””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””””'”‘””'””””””'”
Oleh :Yakop H. Talutu. SH

Berbicara tentang pragmatisme politik, bukanlah suatu hal yang baru dalam pandangan masyarakat umum, baik itu kalangan elitis, menengah sampai ke kalangan bawah.
Masyarakat menengah ke bawah pun sudah sangat paham dan mengerti bahkan merasakan langsung dan melihat serta sangat memahami situasi seperti itu, sehingga terciptanya berbagai opini publik terhadap sistem kepemimpinan, bahkan berbagai tindakan yang dilakukan melalui berbagai cara dalam bentuk demonstrasi namun terkadang tidak mampu untuk menjawab keinginan publik, bahkan tidak mampu untuk merubah polarisasi kepemimpinan yang otokratis.
Dinamika Pragmatisme membawa efek yang tidak baik dalam sistem kepemimpinan, seharusnya sistem kepimimpinan yang mulia dan baik bertolak pada ideologi bangsa.
Dalam mewujudkan suatu sistem pemerintahan yang jujur, adil, makmur dan beradab ketika kita mengacu pada pandangan politik “Demokrasi PANCASILA”.
Terkadang paradigma berpikir mempengharui tindakan. Sejatinya antara umum dan kelompok harus seimbang, sehingga kualitas kepemipinan tercapai dengan baik dan aman.
Dalam hal, kepentingan umum diindahkan maka akan mengakibatkan cara memandang sesuatu dan efeknya adalah salah dalam berperilaku dan berinteraksi.
Ketika Pramagmatisme sudah tidak lagi diharamkan, lalu kemudian digunakan sebagai salah satu dasar dalam sistim kepemimpinan serta menjadikan politik sebagai sarana meraih keuntungan sepihak dan kepentingan derivatif yang sistematis tanpa memperdulikan kedudukan, posisi dan kesejahteraan dari pihak lainnya, maka sudah pasti secara alamia telah merusak ciri dan khas hidup berbangsa dan bernegara.
Seorang Pemimpin sejati adalah orang yang perilakunya berasal dari niat baik dan rasa kepatutan yang akut yang pengendalian diri sama dengan semua keadaan darurat.
Siapa yang menjadikan orang miskin sadar akan kemiskinannya, orang yang tidak jelas dari ketidakjelasannya menjadi jelas atau siapapun yang inferioritasnya berubah menjadi baik adalah seorang pemimpin yang untuknya kehormatan itu sakral dan kebajikan itu aman.
Dinamika Politik yang santun dan bermartabat ketika kepentingan umum lebih diutamakan ketimbang kepentingan individu dan golongan atau kelompok tertentu, maka realita yang terjadi nilai-nilai tentang etik demokrasi terwujud dengan baik.
*Terwujudnya kehidupan yang aman, damai dan sejahtera ketika dalam tatanan kepemimpinan lebih mengutamakan Sistem Kepemimpinan yang Demokratis (terbuka dan transparan) serta mengharamkan Pragmatisme Politik.
#YT. (AT/tim)