Proses Pemilihan Rektor Unpatti : Suatu Kejahatan Keji

Om Alex Retraubun

Oleh: Alex Retraubun

Bagi saya proses pemilihan Rektor Universitas Pattimura (Unpatti) yang sementara berlangsung sekarang ini dan menunggu pemilihan tanggal 29 Januari nanti merupakan proses yang sangat melelahkan. Betapa tidak, sesuai Peraturan Menteri Ristek dan Pendidikan No.1 tahun 2015 Tentang Pengangkatan dan Pemberhentian Rektor/Ketua/Direktur pada Perguruan Tinggi Negeri sempat menjadi kebijakan yang mencekal saya untuk maju sebagai calon rektor.
Mengapa demikian? Pada Pasal 4 poin d. Permen tersebut menyatakan bahwa “persyaratan untuk diangkat sebagai rektor adalah yang bersangkutan memiliki pengalaman manajerial dilingkungan Perguruan Tinggi paling rendah sebagai ketua jurusan atau sebutan lain paling singkat 2 (dua) tahun”. Bagi saya poin di atas sangat tidak rasional bahkan menyandera pengembangan perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia. Alasannya, banyak akademisi yang memiliki pengalaman manajerial di luar kampus dianggap tidak memenuhi kualifikasi hanya karena belum pernah memimpin di perguruan tinggi.
Walaupun ada banyak fakta, saya ingin menggunakan diri saya sendiri bukan dengan maksud menyombongkan diri tetapi sebagai contoh kasus. Saya punya pengalaman manajerial di luar Perguruan Tinggi selama 14 tahun secara nasional sebagai Direktur, Direktur Jenderal dan Wakil Menteri di Kementrian Kelautan dan Perikanan dan Kementrian Perindustrian. Sementara belum pernah jadi Ketua Jurusan seperti diisyaratkan pada Peraturan Menteri tersebut di atas.
Soal pengalaman manajerial ada sejumlah pandangan saya sebagai berikut:

1) Pengalaman manajerial harus merupakan persyaratan mutlak bagi seorang calon rektor agar kepemimpinan tersebut berdampak perubahan positif dalam pembangunan Perguruan Tinggi di Indonesia.
2) Bahwa pengalaman manajerial saya secara nasional sebagai seseorang akademisi selama 14 tahun di luar PT adalah hal yang jarang dicapai oleh semua akademisi di UNPATTI sampai saat ini.
3) Kalau hanya pengalaman manajerial di Perguruan Tinggi yang dipertimbangkan maka muncul pertanyaan: apa keistimewaan pengalaman manajerial di Perguruan Tinggi di bandingkan dengan di luar Perguruan Tinggi? Argumentasi ilmiah saya atas pertanyaan ini adalah tidak ada keistimewaannya bahkan lebih berat memimpin di luar PT karena ruang lingkup operasi organisasinya lebih masif akibat sifat nasionalitasnya. Maka kesimpulan penting bahwa kalau hanya pengalaman manajerial di PT yang dipegang maka pengembangan PT akan tersandera dengan justifikasi pemikiran seperti ini.
4) Dari pengalaman nasional, saya ketahui dengan pasti bahwa sejumlah akademisi dipercayakan berkiprah secara nasional di bidangnya karena yang bersangkutan memenuhi standar kepemimpinan. Apakah mereka tidak layak menjadi Rektor hanya karena belum pernah jadi ketua jurusan?
5) Dalam memimpin organisasi, fungsi utama dalam manajemen sama saja yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan. Akan tetapi tingkat kesulitan mengelola organisasi berbanding lurus dengan skala organisasi. Semakin besar semakin sulit karena rentang kendali organisasi dan jumlah manusia yang di atur.
6) Pengalaman manajerial dari sisi penguasaan ilmu manajemen idealnya juga belum cukup untuk mencapai keberhasilan memimpin karena harus dipadukan dengan seni. Seni berhubungan dengan karakter individu seperti kejujuran, kharisma, kreativitas dan lain lain yang mengajarkan bagaimana tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dieksekusikan.

Pandangan tersebut di atas menjadi argumentasi saya untuk menyurati Menristekdikti pada tanggal 18 Desember 2015. Surat tersebut kemudian direspond oleh Menteri dengan merubah Permen No1 Tahun 2015 menjadi Permen No. 1 Tahun 2016. Dari halaman terakhir permen tersebut tersirat bahwa permen ini ditetapkan oleh Menristekdikti pada tanggal 4 Januari 2016 dan diundangkan oleh Dirjen Perundang-Undangan Kementrian Hukum dan HAM pada tanggal 5 Januari 2016. Perubahan permen tersebut terdapat pada pasal 4 poin d yang menyatakan bahwa “persyaratan untuk diangkat sebagai rektor adalah yang bersangkutan memiliki pengalaman manajerial paling rendah sebagai ketua jurusan/ketua program studi/kepala pusat atau sebutan lain paling singkat 2 (dua) tahun di Perguruan Tinggi atau paling rendah sebagai pejabat esalon II.a di lingkungan instansi pemerintah”.
Saya percaya, argumentasi yang disampaikan sangat rasional dan ilmiah sehingga Menristekdikti membuat perubahan dalam waktu yang relatif singkat walaupun hanya melalui surat. Perubahan tersebut yang memungkinkan saya untuk kembali ikut pertandingan.
Namun dalam pertemuan senat masih ada yang tidak percaya bahwa ada permen baru yang lahir dengan meminta Komisi Penjaringan Calon Rektor untuk mengkonfirmasi ada tidaknya permen dimaksud di kementrian tanpa menyadari bahwa permen tersebut dapat dibaca pada website kementrian.
Permen tersebut tiba di Ambon pada tanggal 6 Januari 2016 dan bertepatan jam 9 pagi Fakultas Pertanian melangsungkan penjaringan sehingga saya bisa diikutkan dalam proses itu dan hasilnya saya mendapat dukungan 5 suara senat yang mengisyaratkan memenuhi sayarat untuk masuk ke tahap penyaringan di tingkat universitas. Hari berikutnya Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (tempat saya bekerja) melangsungkan penjaringan dan saya memperoleh 13 suara. Dengan demikian saya berhak masuk ke tahap penyaringan karena memenugi semua persyaratan.
Pada tanggal 20 Januari 2016 berlangsung tingkat penyaringan yang diawali dengan penyampaian visi,misi dan program kerja dan diakhiri dengan penyaringan untuk mencari 3 (tiga) calon suara terbanyak. Saat perhitungan suara saya merasa ada kejahatan keji yang terjadi hanya bertujuan untuk mengeluarkan saya dari tiga besar. Modusnya dengan cara calon terkuat dari sisi jumlah suara, rela memberikan suara kepada calon lain tanpa diketahui oleh yang bersangkutan hanya untuk memastikan saya keluar dari tiga besar. Setelah saya mengkonfirmasi kepada calon lain mereka tidak merasa melakukan konspirasi tersebut maka dengan mudah dapat disimpulkan siapa yang melakukannya. Sungguh saya tidak dapat pungkiri bahwa sebagai manusia saya lelah karena terus dikerjain oleh kolega sendiri.
Bagi saya sekali lagi, ini suatu kejahatan keji yang dilakukan di dunia pendidikan tinggi untuk mempertahankan rejimnya dan menyingkirkan orang orang yang mampu membawa perubahan di universitas yang telah berumur setengah abad ini. Semoga tidak terulang lagi karena sungguh keji.

Penulis adalah salah satu calon rektor Universitas Pattimura (Web/007)

Jadilah Orang Pertama share:
author