Saumlaki, ambontoday.com – Pasca penyebaran pandemi Covid-19 di dunia bahkan di Negara Republik Indonesia (NRI) yang kapan saja menyerang manusia secara keseluruhan tergantung kekebalan tubuh, bahkan nyawa taruhan ketika dinyatakan terkonfirmasi atau positif Covid-19.

Dari isu Nasional bahkan Internasional ini, meminta masyarakat lewat himbauan-himbauan yang selalu disebarkan kepada masyarakat untuk sama-sama memerangi penyebaran Covid-19 secara nasional bahkan di seluruh daerah.

Kondisi ini terlihat dan dirasakan oleh masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) dimana dengan gencarnya Pemda menghimbau kepada masyarakat untuk selalu mematuhi protokol kesehatan (Prokes) dan selalu aktif untuk bersama Pemda dalam memerangi dan memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Lewat seruan yang sering diserukan pemerintah maka untuk menyelamatkan keselamatan masyarakat KKT secara umum maka adik Anawati Thenager harus melapor kakaknya Nuraini Thenager ke Polres KKT karena diduga menyebarkan berita hoax terhadap keluarganya, karena terkonfirmasi Covid-19 tertanggal 22 Juni 2021.

Johan Siauta suami dari pelapor yang mempunyai toko berkat yang diduga positif covid-19 bersama anak-anaknya, merasa diviralkan oleh kakak iparnya Nuraini Thenager alias Nini, sehingga dilaporkan ke Polres KKT, hingga kini belum juga ada pada tahapan gelar perkara, mengingat laporan tersebut sudah dari bulan Juni 2021.

Sesuai data yang didapat, dokter Tomy Thenager yang melakukan pemeriksaan swab antigen terhadap Johan dan keluarganya, ia juga yang merawat Johan bersama anaknya di rumah gunung nona Saumlaki, selama empat hari bersama menantunya, ibu dari pelapor dan terlapor. 

“Saya dapat Info dari adik saya di Jakarta Joi bahwa ibu kami sementara kenal Covid-19 dan juga Koko Johan, karena tinggal satu rumah di Gunung Nona,” ujar Elvis Refualu sebagai pendamping Nini Thenager kepada Ambontoday.com di Saumlaki, menyambung cerita dari Nini.

Elvis juga menjelaskan, ketika dikonfirmasi ke dokter Tomy, pihaknya katakan bahwa Koko Johan hasil swabnya negatif namun hasilnya ia dokter  Tomy sudah membuangnya.

Dari penjelasan dokter Tomy itu timbul dugaan ada proses pembohongan publik disitu, mengingat ibu dari saudari Nini yang dinyatakan positif Covid-19 berada satu atap dengan Koko Johan dan anaknya, dan info dari adik Nini di Jakarta bahwa mereka Johan dan ibu mereka berada satu atap selama empat hari.

“Saya duga ini ada proses penipuan publik, awas ini Covid-19 yang merupakan isu internasional dan ini sangat urgensi, sehingga hasil swab antigen yang dilakukan oleh dinas Kesehatan KKT itu setelah tujuh hari Johan dan anaknya serta mertuanya dirawat, otomatis hasilnya negatif, apa itu salah ketiaka Nini harus sampaikan itu ke teman-teman group WhatsAppnya ya,” tutur Elvis.

Elvis berharap persoalan ini secepatnya ditindaklanjuti oleh pihak polres KKT, karena sudah selesai dalam pemeriksaan pada 27 Desember 2021 maka, seharusnya sudah bisa dilakukan gelar perkara.

Menindak lanjuti itu, Kapolres KKT AKBP Romi Agusriansyah ketika dikonfirmasi via pesan singkat di whatsApp, Rabu, (19/1) katakan, pihaknya sementara mempelajari hasil pemeriksaan, mengingat terlapor baru tiba di Saumlaki.

“Masih proses bro.. terlapor baru hadir di Saumlaki, kita liat hasil pemeriksaan dulu ya..nanti setelah selesai pemeriksaan baru tentukan langkah berikutnya,” ungkap Kapolres.

Disisi lain, Dokter Tomy Thenager ketika dikonfirmasi, pihaknya tidak bisa berkomentar dengan alasan masih sibuk menangani pasien.

“Maaf ya.. saya sibuk.. lagi urus pasien,” singkatnya. (AT/tim)

 

Print Friendly, PDF & Email