Tidak Transparan Keluarga Datangi Gustu

No comment 124 views

Tiakur, ambontoday.com – Merasa tidak puas terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten melalui Gugus Tugas Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) , pihak keluarga Orang Tanpa Gejala (OTG) datangi lokasi karantina.

Aksi protes yang dilakukan pihak keluarga diakibatkan perpanjangan masa karantina yang hingga kini telah mencapai kurang lebih dua bulan terhitung sejak 10 Mei lalu.

Pernyataan ini disampaikan oleh suami salah satu Warga berstatus OTG yakni Oyang Pitan di hadapan ketua Harian Gustu MBD, Alfonsius Saimiloy yang datang langsung ke lokasi karantina untuk merelai aksi, Rabu (24/06).

Menurutnya , kebijakan pihak Gustu dalam perpanjagan masa karantina tidak sesuai. Oleh karena hingga saat ini, Gustu tidak memiliki keterbukaan informasi atas hasil Swap/PCR para peserta karantina.

Dikatakan, pihak Gustu hanya memberikan pernyataan bahwa hingga kini tiga warga OTG masih berada dalam status positif atau terkonfirmasi Virus Covid-19. Namun hasil PCR hingga kini tidak pernah ditunjukan secara transparan.

Dirinya menginginkan adanya keterbukaan oleh pihak Gustu dalam setiap proses penanganan Covid-19, sehingga seluruh masyarakat dapat lebih memahami berbagai kebijakan maupun protokoler yang diberlakukan.

“Sebagai keluarga kita menginginkan yang terbaik, apalagi ini menyangkut kesehatan. Namun jangan hanya sekedar isapan jempol semata, melainkan perlu disertai dengan bukti-bukti konkrit khususnya pada hasil PCR. Agar kami dapat lebih memahami kondisi dan situasi yang akan dihadapi oleh kami sebagai keluarga,” ujarnya.

Tidak hanya itu, dirinya pun merasa tidak puas dengan perbedaan lokasi karantina kepada seluruh warga yang terkonfirmasi. Dimana dari lima warga yang berstatus OTG, tiga warga sipil masih ditempatkan di perumahan Pemda sementara untuk dua tenaga medis yang baru terkonfirmasi OTG justru dikarantina di perumahan Dokter.

” Ini maksudnya apa , sampai lokasi karantina atau isolasi terpusat ini harus dibedakan tempatnya. Jika benar ingin mengatasi penyebaran Corona secara terpusat, harusnya seluruh OTG ditempatkan di satu lokasi yang sama. Jangan dibeda-bedakan seperti ini,” tegasnya.

Saat ini kita melakukan aksi unjuk rasa bukan untuk memaksakan pihak Gustu agar memulangkan para OTG yag telah melewati 14 hari masa karantina pasca hasil Swap Pertama. Namun kita menginginkan adanya pemerataan dalam penanganan.

” jika harus dibedakan seperti ini lebih baik seluruh protokoler Covid-19 ditiadakan. Dan dibiarkan saja masyarakat yang mengobati dirinya sendiri, toh hingga saat ini yang berkarantina masih dalam keadaan sehat tanpa terdeteksi penyakit apapun. Jangan jadikan masyarakat sebagai tameng untuk hal-hal yang tidak sesuai,” tutupnya. (AT/ari)

author