Tokoh Pemekaran Tak Diundang Pada Paripurna HUT Kabupaten, Bupati Bursel Kecewa dan Sedih

Ambon today – Safitri Malik Soulisa Bupati Buru Selatan merasa sedih dan kecewa lantaran Bagian Sekertariat Dewan tidak mengundang satupun tokoh pemekaran kabupaten pada acara Paripurna Istimewa DPRD memperingati Hari Ulang Tahun Ke-13 Kabupaten Buru Selatan.

Tidak hanya kepada tokoh pemekaran, mantan Bupati Tagop Sudarsono Soulisa juga tidak diundang oleh Sekertariat Dewan. Kekecewaan dicampur rasa kesedihan itu ia sampaikan pada akhir sambutannya pada Pariurna DPRD Peringatan HUT ke-13 Kabupaten Buru Selatan berlangsung di ruag paripurna, Rabu (21/7).

Paripurnarna dipimpin Ketua DPRD Muhadjir Bahta, anggota DPRD. Sedangkan dua Wakil Ketua, La Hamidi dan Jamatia Booy keduanya berhalangan hadir.

Paripurna istimewa tersebut di hadiri oleh Bupati Safitri Malik Soulisa -SMS- dan Wakil Bupati Gerson Eliezer Selsily -GES. Selain itu, Sekda Iskandar Walla, pimpinan OPD lingkup Pemkab Bursel serta undangan lainnya.

Bupati mengatakan, semua orang yang hadiri Paripurna istimewa ini adalah orang-orang elit, terhormat.

“Hampir 10 tahun saya menjadi ketua TP PKK Kabupaten Buru Selatan, semua tentang Buru Selatan ada dalam ingatan saya,” ucap Bupati.

Dikatakan, dirinya berbedah (kepemimpinan) dengan kaum pria. Karena selama 10 tahun menjadi ketua TP PKK, dirinya sebagai wanita telah mendatangi masyarakat di seluruh pelosok yang ada di Buru Selatan.

Dengan adanya persoalan pandemic Covid-19 saat ini, masyarakat Buru Selatan harus berusaha bekerja untuk menyambung hidup.

“Naluri seorang ibu berbedah dengan seorang laki-laki. Hari ini kita berpakaian bagus, dan saya berdiri sebagai seorang kepala daerah. Dan selendang yang saya pakai ini diberikan pada masa kampanye,” ujar Bupati.

Sambutannya, namun dirinya lupa pemberian selendang itu dari desa mana. Katanya kalau selendeng yang dia pakai itu pemberian dari masyarakat Buru Selatan asal suku Buton.

Hal itu menggambarkan kalau masyarakat di pulau Buru ini adalah satu, dan dirinya kini telah menjadi orang Buru, tak ada yang besar dan tak ada yang kecil, dan daerah ini berbedah dengan daerah yang lain.

“Bekerjalah dengan tulus, bekerjalah dengan hati. Karena satu saat, yang akan menggantikan kami harus lebih baik lagi dari orang-orang yang telah berkorban demi kabupaten Buru Selatan ini,” ucap Safitri Malik.

Ujar Safitri, bangsa yang besar adalah bangsa yang sangat menghargai perjuangan para pahlawannya.

Ia katakan, kalau dirinya sempat menanyakan kepada suaminya Tagop Sudarsono Soulisa (mantan Bupati) yang pada beberapa bulan kemarin ia gantikannya sebagai Bupati, “bapak di undang, tidak diundang (jawab Tagop”.

Kata Safitri, jangan seperti itu, karena tidak baik. Sebutnya, masyarakat Buru Selatan saat ini atas rahmat Allah dan dipersatukan oleh para leluhur.

“Janganlah melupakan, ayat jangan terlalu cepat melupakan kebaikan, setitik kebaikan, setitik keringat mereka. Karena kita tidak menuntut hak-hak yang bukan hak kita. Namun satu undangan saja buat satu orang yang pernah berjasah pada kabupaten Buru Selatan,” ucap Safitri yang terlihat kecewa bercampur sedih.

Sebut istri Tagop Sudarsono Soulisa mantan Bupati pertama Buru Selatan ini bahwa, pembentukan kabupaten Buru Selatan tidak segampang yang di bayangkan, dan ia menjadi saksinya.

“Ada juga pak Gerson Wakil Bupati, kita berdua saling menjunjung tinggi nilai-nilai adat kai wait,” ujarnya.

Namun sebagai orang Buru Selatan tidak menghargai itu, kata Bupati, jangan merasa seola-ola menjadi orang hebat di kabupaten Buru Selatan.

”Karena tidak ada orang hebat di kabupaten ini. Bapak Nus Seleky (tokoh pemekaran) kenapa tidak diundang. Ulang tahun kabupaten, mereka tidak menuntut sesuatu yang berharga, tetapi kehadiran mereka dan duduk di tempat duduk yang istimewa ini akan menjadi kebanggaan bagi keluarga mereka,” jelas Safitri prihatin.

Kata Safitri, hari ini dirinya hadiri paripurna didampingi anaknya. Jelasnya bahwa karena anaknya sangat paham dengan situasi dan kondisi saat-saat pemekaran kabupaten ini.

Sebagai seorang ibu kata Safitri, dirinya takan tegah melihat kondisi masyarakat yang kesusahan untuk makan. Apalagi masyarakat yang tinggal di pesisir pantai Buru Selatan.

“Mari kita bekerja dengan hati, jadilah pelayan-pelayan masyarakat. Mari kita berikan contoh yang baik pada generasi muda,” pinta Safitri Malik, tak lupa menyampaikan selamat menjalankan hai raya Udul Adha 1442 Hijrah, dan dirgahayu ke-13 Kabupaten Buru Selatan. (Biro Bursel)

error: Iklan Hub redaksi@ambontoday.com!!!!