AMBON, Ambontoday.com- Dalam agenda reses masa sidang pertama tahun 2021/2022, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Ambon, Yusuf Wally bekerjasama dengan Jurusan Biologi IAIN Ambon untuk pengabdian bagi masyarakat melalui sosialisasi stunting, yang berlangsung di desa Rumah Tiga Dusun Talaga Pange, Rabu (19/1/2022).

Hadir pula dalam kegiatan tersebut adalah 5 orang dosen IAIN Ambon Jurusan Biologi, RT/RW, masyarakat setempat.

Kepada media ini, Wally mengakui tujuan sosialisasi dalam reses ini untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat pentingnya menjaga asupan makanan bagi anak sehingga terhindar dari stunting.

“Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat, dan kali ini kami melakukan sosialisasi terkait pangan bergizi untuk mencegah stunting di kota Ambon,” tambahnya.

Dirinya menjelaskan, data yang kami peroleh saat ini ada 16 anak mengalami stunting di desa rumah tiga, dan di dusun telaga Pange sendiri ada 3 orang yang menderita stunting.

“Secara langsung kami mengajarkan cara pembuatan makanan bergizi bagi bayi dan calon bayi yang ada dikandungan,” paparnya.

Menurutnya, Stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang menyebabkan pertumbuhan anak yang terlalu pendek dan menjadi kerdil pada usianya. Hal tersebut disebabkan oleh asupan gizi yang kurang akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting bukan hanya terjadi pada ibu hamil dan anak balita tapi juga pada remaja putri.

“Kami mendukung program Pemerintah kota Ambon dalam pencegahan stunting, semua dinas dapat ambil bagian dalam pencegahan stunting, misal dari dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Ambon, yang telah menyiapkan tim pendamping keluarga yang berisiko tinggi memiliki anak dengan masalah kekerdilan yang terdiri atas kader PKK, Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD), bidan, dan tenaga kesehatan di desa, negeri, dan kelurahan,” tuturnya.

Harapan saya tim ini ditempatkan pada lokasi masyarakat yang mengalami kekerdilan, sehingga penanggulangan fokus agar tidak terjadi lagi bagi yang lain.

Untuk itu, pendampingan sangat perlu bagii mereka yang akan menikah, ibu hamil dan bayi di bawah usia dua tahun.

“Perlu jemput bola mendata rumah warga dengan risiko memiliki anak kekerdilan yang berisiko tinggi, dan pasangan yang menikah, yang berencana menikah, ibu hamil dan baduta (bayi bawah dua tahun),kata aleg PKS ini,” tukasnya.

Persoalan gizi menjadi gejala kekerdilan pada anak. Kekurangan gizi terutama pada 1.000 hari pertama sejak di kandungan menjadi penyebab, karena itu dibutuhkan penanganan serius.

“Kita berharap pendampingan yang dilakukan dapat mencapai sasaran yakni menekan angka ‘stunting’,” katanya

Diharapkan, melalui kegiatan ini, kaum ibu-ibu rumah tangga dapat memahami akan pentingnya pencegahan stunting dengan menyiapkan makanan yang bergizi yang secara allami dan mudah didapatkan untuk konsumsi keluarga sehari-hari.

Semoga dengan sosiilisasi pangan bergizi hari ini, kedepan angka stunting dapat ditekan, yang banyak terjadi pada anak usia 1-5 tahun.

“Jika semakin menurun angka stunting di Kota Ambon bahkan hilang, maka terciptanya masa depan Kota Ambon yang lebih baik karena adanya generasi masa depan yang cerdas dan produktif,” tutup wally. (AT-009)

Print Friendly, PDF & Email