Widya: Jangan Biarkan Stunting Rampas Masa Depan Generasi Maluku

Ambon, ambontoday.com – Jangan lagi stunting merampas kualitas dan masa depan generasi Maluku. Inilah sebuah ungkapan yang disampaikan Widya Pratiwi Murad Ismail, istri Gubernur Maluku yang juga sebagai Duta Perangi Stunting(Parenting) Provinsi Maluku.

Tentunya hal ini sangat beralasan, dimana Pemerintah saat ini tengah fokus memberikan perhatian terhadap SDM Indonesia sejak dari dalam kandungan sampai masa emas. Sebab, dengan menyiapkan SDM yang unggul, maka cita-cita Indonesia menjadi negara maju dapat benar-benar terwujud.
Hal yang sama juga menjadi harapan Widya Murad Ismail untuk dapat mengeluarkan Maluku dari bayang-bayang Srunting.
Stunting jelas Widya merupakan kondisi disaat seorang anak yang masih berusia 1000 hari kehidupannya mengalami kekurangan gizi hingga berusia 2 tahun. Jika masalah gizinya tidak segera ditangani dengan baik, maka anak tersebut dapat mengalami stunting.
“Stunting,
bukan hanya masalah postur anak yang pendek saja, akan tetapi sangat berkaitan
dengan kecerdasan anak dan daya saing anak di masa depan. Untuk itu, mari kita percepat berbagai upaya dalam memerangi stunting. Jangan biarkan stunting, gizi buruk ataupun masalah gizi lainnya merampas kualitas dan masa depan generasi Maluku kedepan,” kata Widya saat berkunjung ke Desa Ohoi Uwat dan Desa Ohoi Mun Esoy Kabupaten Maluku Tenggara, Senin (26/10/2020).
Berbagai upaya agar generasi Maluku bebas stunting menjadi agenda utama kunjungan kerja Widya ke wilayah-wilayah lokus stunting, salah satunya dengan melakukn kunjungan kerja ke Ohoi Uwat dan Ohoi Mun Esoy Kabupaten Maluku Tenggara.
Berdasarkan data yang diperoleh, jelas Widya, di Desa Ohoi Uwat masih terdapat balita stunting sebanyak 14 anak.
Namun demikian, telah mengalami penurunan, menjadi tersisa 8 balita. Begitupula di Ohoi Mun Esoy dari 30 balita stunting telah mengalami penurunan jumlahnya menjadi 14.
Berkaitan dengan adanya penurunan jumlah stunting ini, Widya memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah bekerjasama dalam memerangi stunting.
“Setiap kabupaten hingga desa pastinya berjuang untuk mengurangi bahkan menyelesaikan masalah stunting di masyarakatnya. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah masalah harus dselesaikan dari sumbernya,” papar Widya.
Sumber masalah yang dimaksudkan Widya adalah, dimana untuk memberantas masalah stunting, maka hal tersebut harus dimulai dari diri sendiri ďan keluarga, dengan mencukupi asupan gizi seimbang pada 1.000 hari pertama kehidupan yakni, sejak hamil hingga anak berusia 2 tahun.
“Kalau kekurangan gizi dan tidak segera ditangani dengan cepat dan tepat, maka anak bisa mengalami stunting,” jelasnya.
Selain itu, dengan cara menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan di sekitar kita pun merupakan salah aatu upaya mencegah stunting aejak dini.
“Memag salah satu penyebab anak stunting yaitu lingkungan, sanitasi dan kebutuhan air bersih. Dalam perjalanan menuju Ohoi Uwat, saya dapat merasakan sulitnya wilayah harus ditempuh. Selain itu belum semua rumah memiliki jamban keluarga, air bersih. Ini akan menjadi catatan dan Insha Allah kedepan bisa teratasi,” terang Widya.
Widya kemudian memotivasi masyarakat agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi kondisi ini.
“Apakah dengan keadaan ini kita menyerah? Tentu tidak. Sebagai orang tua kita wajib memberikan yang terbaik, tetap berusaha untuk anak-anak kita.
Karena aset terbesar kita sebagai orang tua adalah anak-anak. Oleh karena itu, tolong di perhatikan kebersihan lingkungan dan sanitasi, gizi serta jangan lupa untuk sering kita memeluk anak-anak kita sebagai bagian dari bentuk kasih sayang,” ajak Widya.
Untuk itu, imbau Widya, perangi stunting, harus menjadi perjuangan bersama.
“Sebagai Duta Parenting Maluku, saya mengajak semua komponen masyarakat dengan berbagai kapasitas dan kemampuan yang dimiliki untuk bekerjasama dalam menurunkan jumlah stunting di Provinsi Maluku,” ajak Widya.
Stunting bukan saja tugas dokter, mantri dan perawat, tapi semua komponen masyarakat.
Untuk itu, dirinya memberikan tantangan sekaligus mengajak semua pihak, tenaga kesehatan, Kepala Desa Ohoi Uwat dan Ohoi Mun Esoy, Camat
tokoh agama, tokoh masyarakat, para kader posyandu serta PKK Kecamatan dan desa dan Duta Parenting Kabupaten Maluku Tenggara untuk berkomitmen dalam memerangi stumting.
“Kepala Ohoi Uwat dan Ohoy Mun Esoy juga sangat berperan untuk memastikan setiap warganya sehat dan memiliki kartu BPJS.
Jika hari ini telah terjadi penurunan berarti ada kerja keras yang luar biasa dan harus ditingkatkan untuk menyelesaikan yang masih tersisa,” kata Widya memotivasi.
Widya juga meminta,
tokoh-tokoh agama agar turut berperan dalam meningkatkan dan memotivasi jemaat dan warga jemaat pada saat berkhotbah maupun dalam.memberikan pesan-pesan kesehatan di gereja maupun di masjid.
“Saya sangat percaya, jika semua menjalankan perannya, maka stunting dapat diatasi. Dan harapan saya, di tahun depan sudah tidak ada lagi stunting di Kabupaten Maluku Tenggara khususnya di Ohoi Uwat dan Ohoy Mun Esoy,” tandas Widya
Dalam kunjungannya di Kabupaten Malra, Wiidya juga menyerahkan sejumlah bantuan berupa Buku Resep Pangan Lokal untuk anak-anak stunting, BKB (Bina Keluarga Balita), Kit Stunting, Antropometrik Kit.
Widya juga memghadiri Lomba Cipta Menu Anak Stunting, Peninjauan Kelas Ibu Hamil dan Pelayanan KB serta penyelenggaraan Gelar Pangan Lokal bersama Dinas Ketahanan Pangan di Ohoi Dian Darat, Ohoi Rumahdian dan Ohoi Mastur Kabupaten Malra.(AT/lamta/humas)

author