Yayasan Tifa Damai Maluku Gelar Cawers Berbasis Jaringan Multi Stakeholder

Ambon, Ambontoday.com – Yayasan Tifa Damai Provinsi Maluku menggelar  Workshop Conflic Early Warning and Early Response System (Cawers) yang berlangsung di Hotel Amaris Ambon, Rabu (13/12/2017).

Turut hadir dalam ke]giatan dimaksud adalah Perwakilan dari Polda Maluku sekaligus sebagai Narasumber, AKBP Abdul Rasid Manuputty, Kesbang Pol, Abdul Hamid Talaohu, Ketua Fraksi PKB DPRD Provinsi Maluku, Habiba Pellu dan Direktur Tifa Damai, Justus Pattipawae serta 15 Negeri yang mengikuti dialog di Jazira-Leihitu.

“Workshop ini dilakukan sebagai rangkaian kegiatan dialaog komunitas dengan komponen stakeholder atau tokoh-tokoh masyarakat yang ada di Jazirah – Leihitu,  karena selama ini orang mengidentikan Jazirah – Leihitu dengan persoalan konflik,” kata Direktur Tifa Damai, Justus Pattipawae kepada awak media.

Menurutnya, Fenomena ini sebenarnya perlu dilihat bersama, karena selama ini sudah banyak pihak termasuk pemerintah, polda, panglima,  saniri dan negeri cenderung turut mengamankan konflik yang terjadi di Jazirah – Leihitu.
Namun, masalah  ini cenderung terulang kerena akar dari permasalahan tidak dapat dilihat, sehingga konflik terjadi sulu baru adanya upaya pengamanan dari instansi yang terkait.

Maka itu, diharapkan, dengan masuknya program yang digagas oleh Habiba Pellu sebagai salah satu anak negeri Jazirah -Leihitu dapat membangun orientasi politik di masyarakat.

“Jiwa semangat sebagai anak negeri dapat memberikan kebanggaan bagi orang bersaudara, sehingga tidak ada lagi sentimen-sentimen lembaga, kampung dan lainnya,” tutupnya.

Sementara itu, Sambutan Gubernur Maluku yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Maluku, Megi Samson mengatakan, kegiatan ini meruapakn salah satu upaya membangun komunikasi untuk pencegahan dan penyelesaian konflik.

“Fokus utama untuk pencegahan melalui mekanisme dan sistem  Cewers secara informatif atau komunikatif, koordinatif dan integartif,” kata Samson.

Dikatakan, konflik yang sering terjadi seringkali masalah yang sepele seperti kecelakaan lalu lintas , kenakalan remaja, batas wilayah dan lain-lain. “Hal ini diperparah dengan adanya peredaran miras yang bebas di masyarakat, ditambah dengan koordinasi serta komunikasi yang tidak berjalan dengan baik antara masyarakt pemerintah dan aparat keamanan.

Padahal, “kita sangat membutuhkan komitmen membangun hidup bersama  yang damai untuk semua orang. Bahkan, perdamaian menentukan mati hidupnya sebuah masyarakat, menentukan derajat martabat, identitas dan produktivitas  sebuah masyarakat dan bangsa,” ungkap Samson.

Menurutnya, kegiatan Workshop ini merupakan lanjutan dari kegiatan dialog komunitas dan pelatihan yang melibatkan masyarakat di daerah ini. “Saya tahu, Yayasan Tifa Damai Maluku selama ini telah menunjukan peran dan fungsinya serta berkontribusi secara nyata, sebagai salah satu motor penggerak dalam menciptakan tatanan sosial kemasyarakatan yang aman, rukun dan damai,” jelasnya.

Untuk itu, Dia berharap, melalui kegiatan workshop ini dapat memperluas jangkauan program dan meningkatkan pemahaman bersama dengan melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan di daerah ini, sehingga kedepan sinkronisasi kegiatan pembangunan yang peduli dapat memperkuat pemantauan konflik untuk perdamaian berkelanjutan di Maluku.

Diakuinya, Masyarakat sebagai pelaku utama dalam membangun kehidupan bersama antar sesama anak bangsa, sepatutnya memiliki kesadaran untuk membangun  hidup bersama dalam suasana  aman, rukun dan damai. “Hal ini dapat dimaknai guna kemajuan dan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Maluku,” tuturnya.

Oleh karena itu, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, kelompok perempuan serta element masyarakat lainnya, agar mendukung kegiatan-kegiatan yang strategis dalam mengelola konflik dan membangun perdamaian.

“Semoga kita semua sebagai anak negeri Maluku diberikan kekuatan untuk tetap memelihara dan melestarikan kehidupan masyarakat guna mewujudkan Pembangunan  Maluku yang rukun, damai, aman, sejahtera, adil, berdaya saing dan relegius,” tutupnya. (AT-009)

Jadilah Orang Pertama share:
author