Pertamina Mulai Belajar Lupa, Pemuda Olilit Raya ingatkan
Saumlaki, ambontoday. com - Bertahun tahun beroperasi di kawasan Desa Olilit Raya, PT. Pertamina Cabang Saumalaki seakan mengabaikan kewajibannya sebagai perusahaan raksasa milik Negara itu, guna menjawab kebutuhan sosial.
Tindakan acuh itu membuat geram berbagai kalangan, dimana CSR (Corporate Social Responsibility atau Tanggung Jawab Sosial Perusahaan) adalah komitmen dan tanggung jawab moral dari suatu perusahaan untuk menjalankan bisnis secara etis serta berkontribusi langsung terhadap pembangunan ekonomi berkelanjutan, kesejahteraan sosial, dan pelestarian lingkungan.
Di tengah harapan masyarakat wilayah operasional energi untuk merasakan manfaat kehadiran perusahaan raksasa, suara kekecewaan menggema dari Desa Olilit Raya, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Ongen Ramgkore, Ketua Pemuda Olilit Raya keluhan mendalam terkait pengabaian dari pihak PT Pertamina.
Menurut Ongen, saat di konfirmasi ambontoday. com melalui pesan singkat WhatsApp Kamis, (05/11/2026) ia menyebutkan selama kurang lebih lima tahun lalu pimpinan PT Pertamina yang sebelumnya pernah membuka ruang respon dan dialog dengan beberapa komunitas terkait dampak lingkungan sekitar lokasi operasi. Saat itu masyarakat masih memiliki ruang pembahasan terkait keluhan‑keluhan sosial‑lingkungan di sekitar Dusun Tanaman, Desa Olilit Raya. Namun sejak terjadinya pergantian kepemimpinan di badan usaha tersebut, pihak pemuda bersama masyarakat desa mulai kehilangan monolog dan ruang pembahasan apapun dengan manajemen perusahaan.
Ia menegaskan bahwa hak dan kewajiban setiap perusahaan termasuk BUMN telah diatur dalam Undang‑Undang No. 40 Tahun 1990 serta Pasal 72 Ayat (1) dan Ayat (2) yang mengamanatkan perhatian terhadap dampak sosial‑lingkungan dari kegiatan usaha.
“Peraturan itu bukan hanya tulisan di kertas. Ia menjadi janji negara bahwa kehadiran perusahaan tidak boleh hanya mengambil manfaat sumber daya tanpa membalas kepada masyarakat penyangga,” ujar Ongen Ramgkore.
Ia menuturkan bahwa pihak pemuda selama ini berulang kali berupaya membangun komunikasi konstruktif dengan pimpinan Pertamina di daerah, namun belum pernah mencapai titik temu yang berarti setelah pergantian pimpinan tersebut.
“Kami selalu membuka pintu dialog, namun usaha itu sering berhenti di tempat. Ini sangat mengecewakan generasi muda Olilit Raya yang berharap kehadiran BUMN dapat menjadi pilar kemajuan desa,” katanya.
Perbandingan yang menyakitkan muncul dari keberadaan proyek Blok Masela. Meskipun operasi lapangan perusahaan tersebut belum berjalan satu persen, program‑program sosial‑lingkungan telah mulai dijalankan dan dirasakan oleh berbagai kelompok masyarakat sekitar. Sebaliknya, Pertamina yang sudah puluhan tahun berada di Olilit Raya dinilai belum menunjukkan perhatian serius terhadap dampak sosial dan lingkungan sekitarnya.
Salah satu bukti nyata yang dijadikan acuan adalah kerusakan parah Jalan Utama Olilit Barat, jalur yang sering digunakan kendaraan operasional Pertamina menuju lokasi kerja dan pusat kota Saumlaki. Jalan yang menopang kehidupan sehari‑hari masyarakat desa itu kini memburuk dan belum pernah mendapat perhatian perbaikan dari pihak perusahaan.
“Jalan rusak adalah cermin dari hubungan yang terputus. Ketika roda perusahaan melaju di atas tanah kami, kita juga berharap ada tangan yang menjaga jalan yang sama kami lalui setiap hari,” ujar Ongen dengan nada bijak. “Kesejahteraan bukan hanya dari apa yang dihasilkan perusahaan, tetapi juga dari apa yang dibagikan". (AT/BN)
👋 Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
💬 0 Komentar
📭 Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Rekomendasi Untuk Anda
Pansus Ranperda Ketenagakerjaan Kota Ambon Gelar Uji Publik
Waemese Resmi Nakhodai Perindo BurseL: Sebuah Awal dari Harapan dan Perjuangan Baru
Jelang Nataru, BPOM Ambon Temukan 17 Fasilitas Tidak Memenuhi Ketentuan