Tanimbar Bukan Hanya Lermatang: Blok Masela Butuh Keadilan Spasial
Oleh: Kornelis Waturu (Putera Tanimbar)
Ketika kita bicara Blok Masela, semua mata tertuju pada satu titik: Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan. Wajar, karena di sanalah daratan onshore LNG plant akan dibangun. Tapi sejak kapan Tanimbar menyusut menjadi satu desa?
Kecenderungan perhatian INPEX Masela Ltd. yang terfokus secara eksklusif kepada Lermatang sebagai desa terdampak langsung, adalah sebuah kekeliruan spasial dan sosiologis yang berbahaya. Ini menciptakan enclave economy - ekonomi kantong yang justru akan menjadi bom waktu sosial bagi Tanimbar secara keseluruhan.
Pertama, soal Tenaga Kerja Lokal. Dampak ledakan penduduk, migrasi pencari kerja, dan kebutuhan skill akan dirasakan di Saumlaki, Olilit, Sifnana, Lauran , Selaru sampai ke molo maru. Jika sejak hari ini local content dan training center hanya dipusatkan di Lermatang, maka kita sedang mempersiapkan 9 kecamatan lain di Kepulauan Tanimbar untuk menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Yang kita butuh bukan sekadar pelatihan satpam dan driver, tapi roadmap tenaga kerja lokal berjenjang: dari SMA/SMK di KKT untuk sertifikasi welder, scaffolding, K3 migas, sampai beasiswa teknik perminyakan untuk anak Tanimbar. Vendor lokal pun sama. Vendor asli Tanimbar tidak akan mampu bersaing dengan vendor nasional jika tidak dipersiapkan dari sekarang.
Jangan sampai filosofi Tanimbar hanya jadi supplier kerupuk dan laundry untuk camp Masela.
Kedua, dan ini yang paling penting: Advokasi Spasial-Psikis. Kita terlalu sibuk bicara ganti rugi lahan di Lermatang, tapi lupa bicara ganti rugi ruang hidup dan kesiapan psikis. Advokasi Spasial: Blok Masela akan mengubah total lanskap Tanimbar.
Saumlaki akan macet, harga tanah dan kos akan melambung, nelayan di perairan selatan akan berhadapan dengan jalur pipa dan zona terbatas. Petani di Tanimbar Utara yang tidak pernah lihat kilang, akan merasakan dampak inflasi.
Apakah masyarakat di luar Lermatang sudah dipetakan dampak spasialnya? Apakah RT/RW kita sudah siap? Advokasi Psikis: Ini yang paling dilupakan.
Masyarakat Tanimbar adalah masyarakat komunal, adat, dan subsisten. Tiba-tiba kita akan dimasukkan ke dalam industri ekstraktif raksasa bernilai miliaran dolar. Kesenjangan sosial, kecemburuan antar desa (Lermatang vs non-Lermatang), budaya uang instan, alkohol, hingga konflik lahan adalah dampak psikis yang nyata.
Di mana program social resilience dan pendampingan psikososial untuk mempersiapkan masyarakat agar tidak kaget budaya (culture shock)?
Masela tidak boleh hanya membangun kilang, tapi harus membangun kesiapan manusia Tanimbar secara fisik dan psikis. Oleh karena itu, kami menuntut: Perluasan Definisi Desa Terdampak. INPEX dan SKK Migas harus merevisi definisi affected communities tidak hanya radius 5 km dari plant, tapi berbasis pulau.
Seluruh Kepulauan Tanimbar adalah wilayah terdampak. Pusat Pelatihan Kerja Terpadu Tanimbar di Saumlaki dan terbuka untuk semua anak KKT. Kebijakan Afirmasi Vendor Lokal KKT: Persentase khusus untuk pengusaha lokal Tanimbar, bukan Maluku secara umum.
Program Advokasi dan Kesiapan Sosial : Libatkan tokoh adat, gereja, masjid, dan psikolog komunitas untuk sosialisasi dampak jangka panjang Masela. Jika INPEX hanya memeluk Lermatang, maka ia sedang memeluk satu jari dan melupakan satu kepalan tangan bernama Tanimbar. Dan kepalan tangan yang diabaikan, suatu saat akan mengepal.
Masela harus untuk Tanimbar, bukan Tanimbar untuk Masela.
π Anda harus masuk (login) terlebih dahulu untuk ikut berdiskusi.
π¬ 0 Komentar
π Belum ada komentar yang ditampilkan. Jadilah yang pertama berkomentar!
Berita Terkait
Walang Aduk Solusi Tertib Adminduk Bagi Rakyat Tanimbar
3 days ago
Petugas Lahir Mati Produktif Perlancar Adminduk di Tanimbar
3 days ago
Disdukcapil Kepulauan Tanimbar Jemput Bola di 5 Kecamatan, Kampanye GISA sekaligus Pelayanan
3 days ago
Dinas Pendidikan Kepulauan Tanimbar dan Yayasan Pendidikan Keuskupan Amboina Koorwi Saumlaki DimintaΒ Tegas
6 days agoRekomendasi Untuk Anda
Tingkatkan Akses Keuangan Percepat PEN, OJK Gelar Rakornas TPKAD 2021
Kejari Masohi : Dugaan Kasus Tipikor Bansos Malteng Naik Status
Kunjungi Korban Kebakaran, Bodewin : Kepemilikan Rumah Sah diberikan Dana Stimulan 15 Juta
Dari Tual Menuju Lingerhat, Lansia 70 Tahun Dievakuasi Tim SAR Gabungan Karena Mati Mesin
Demo Dugaan Tipikor // Kejaksaan Akan Tetapkan Tersangka